Selasa, 16 Mei 2017

PERTUMBUHAN EKONOMI 5 NEGARA 5 TAHUN TERAKHIR (2012-2016)




PERTUMBUHAN EKONOMI 5 NEGARA 5 TAHUN TERAKHIR (2012-2016)

China Pangkas Target Pertumbuhan Ekonomi Jadi 6,5 Persen

Pemerintah China memangkas target pertumbuhan ekonomi menjadi sekitar 6,5 persen untuk tahun 2017 ini. Hal tersebut diumumkan oleh Perdana Menteri Li Keqiang.
Sebelumnya, pada tahun 2016 lalu pemerintah China mematok target pertumbuhan ekonomi tahun 2017 pada kisaran 6,5 hingga 7 persen.
Pada tahun 2016 silam, pertumbuhan ekonomi China mengalami laju paling lambat dalam 26 tahun terakhir.
Mengutip BBC, Minggu (5/3/2017), Li menyatakan pihaknya akan menindak perusahaan-perusahaan "zombi" milik negara agar tidak memproduksi batu bara dan baja lebih banyak dari kebutuhan pasar. Namun, kenyataannya pada masa lalu upaya ini susah untuk dilakukan.
Kongres Rakyat Nasional (NPC) telah mentoleransi pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat pada tahun ini. Dengan begitu, mereka memiliki ruang lebih besar untuk mendorong reformasi dan membenahi utang.
Adapun CNN Money mewartakan, Pemerintah China telah menggunakan berbagai stimulus untuk menjaga perekonomian agar tetap tumbuh pada tahun 2016.
Investasi pemerintah pada infrastruktur melonjak dan pinjaman perbankan meningkat pesat, meski ada peringatan terkait tingginya utang korporasi.
Pemerintah China menyatakan, pemangkasan beban utang perusahaan adalah salah satu prioritas utama dalam tahun ke depan. Beberapa ekonom pun mempertanyakan relevansi target pertumbuhan pemerintah.
"Diperhalus oleh para ahli statistik pemerintah dan dipoles oleh cara kalkulasi data PDB (produk domestik bruto) berarti data resmi pemerintah tidak lagi menjadi pengukuran kinerja ekonomi China yang bisa diandalkan," kata biro riset Capital Economics. 

Faktor yang mempengaruhi Negaara Cina
Dewasa ini pertumbuhan ekonomi di Asia sangat pesat, berbeda dengan perekonomian di Uni Eropa yang terpuruk akibat krisis ekonomi di Yunani. Indonesia dan sejumlah Negara Asia lainnya menikmati dampak krisis ekonomi Eropa, para investor mengalihkan uangnya sebagian besar ke negara-negara di Asia. Oleh karena itu, wajar jika sekarang ini Indonesia masuk kedalam kategori negara dengan pertumbuhan ekonomi yang baik dan bergabung dalam keanggotaan G-20.
Tidak hanya Indonesia, negara yang tak kalah penting untuk diperhatikan pertumbuhan ekonominya adalah China. Negeri yang dijuluki tirai bambu tersebut menduduki peringkat ke-2 setelah Amerika dengan pertumbuhan ekonominya mencapai 14,9% pada Tahun 2014 lalu. Pertumbuhan ekonomi ini dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya dengan meningkatkan investasi guna menggenjot perekonomian dalam negeri, upaya ini dilakukan dengan cara menurunkan suku bunga. Hingga sekarang ini China telah menurukan suku bunga dari periode sebelumnya, misalnya suku bunga China pada awal tahun 2015 menurunkan suku bunganya dari 5.600% menjadi 5,350 %.
Dari faktor diatas, terdapat faktor lain yang secara vitalmenggerakkan ekonomi China yaitu tenaga kerja (buruh). China terkenal dengan buruhnya yang murah, dibandingkan dengan negara Asia lainnya. Hal ini dikarenakan pertumbuhan penduduk di China yang sangat banyak dan cepat sehingga ketika penduduk tersebut memasuki usia produktif, mereka kekurangan lapangan pekerjaan. Permasalahan ini kemudian mendorong pemerintah China untuk mengundang banyak investor agar membuka produksinya di China. Para investor yang umumnya berasal dari Eropa, Amerika dan Asia (Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang) tergiur akan tawaran ini. Bagaimana tidak tergiur, tenaga kerja yang banyak sangat berpengaruh pada upah yang ditawarkan, sehingga keuntungan dari hasil produksi bisa lebih banyak daripada belanja (pengeluaran) untuk buruh yaitu upah.
Para buruh yang di gaji sangat murah tersebut telah menggerakkan ekonomi China ke arah yang lebih baik, tapi perlu disadari bahwa banyak sekali pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pemerintah China dalam masalah perburuhan. Kurangnya pengawasan dalam perekrutan ketenagakerjaan terkadang bisa menjadi sorotan internasional yang bisa mempengaruhi ekspor China diluar negeri. Seperti kasus pekerja dibawah umur yang terjadi di perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia yaitu Samsung. Kasus tersebut menjadi perhatian khusus Organisasi Buruh Internasional (International Labor Organization) dan meminta pemerintah China menyelidiki kasus tersebut. Citra China semakin tercoreng dengan peristiwa itu, setelah sebelumnya China mendapat kecaman atas upah murah di China dibandingkan dengan Negara Asia lainnya. Parah buruh itu telah berhasil meningkatkan perekonomian China hingga sekarang ini, bayangkan tanpa para buruh murah tersebut perekonomian China tidak sebesar sekarang.
Gajih murah bagi buruh di China mungkin sekarang sudah mulai mengalami kenaikan, dimana upah buruh di China setiap tahunnya mulai mengalami kenaikan sekitar 20%. Di provinsi Shenzhen misalnya yang merupakan daerah khusus industri China menaikkan upah sebesar 1500 Yuan atau dua juta rupiah per bulan pada tahun 2012 lalu. Kenaikan upah buruh tersebut dilatar belakangi oleh kebijakan pemerintah China dalam hal pengurangan jumlah penduduk melalui program Keluarga Berencana (KB). Sehingga kemudian akibat kebijakan program KB, China mengalami defisit tenaga kerja. Hal itu menghambat pada faktor produksi dan penyerapan tenaga kerja. Dampak dari kenaikan upah buruh itu mempengaruhi investasi asing. Para investor mengalihkan uang mereka ke negara-negara dengan upah buruh murah seperti Myanmar, Vietnam, Thailand dan Bangladesh.

TIMOR LESTE

Tingkat kesejahteraan rata-rata penduduk Timor-Leste berdasarkan gross domestic product (GDP) per kapita yang telah disesuaikan dengan purchasing power parity (PPP) dalam international US$ adalah sebesar US$1.709, sepertiga dari Indonesia yang besarnya US$4,956.[1] Namun, jika menggunakan indikator Gross National Income (GNI) per kapita berdasarkan PPP, Timor-Leste sejak tahun 2007 telah menyusul Indonesia. Data terakhir yang tersedia tahun 2012, GNI per kapita Timor-Leste sebesar US$6.230 sedangkan Indonesia sebesar US$4,730.[2] Ketika masih menjadi bagian dari Indonesia, Timor Timur tergolong provinsi dengan persentase penduduk miskin terbesar bersama Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Setelah berpisah dengan Indonesia, Timor Timur bisa melaju lebih kencang, sedangkan tetangga terdekatnya, Nusa Tenggara Timur, masih saja dengan status provinsi yang persentase penduduk miskinnya tertinggi setelah Papua dan Papua Barat. Sebagai negara yang relatif baru membangun dengan penduduk hanya 1,2 juta jiwa, Timor-Leste masih banyak menghadapi keterbatasan. Namun, negeri ini bisa belajar banyak dari keberhasilan dan kegagalan Negara lain, termasuk Indonesia, sehingga terbuka peluang untuk maju lebih cepat. Majalah Economist edisi terbaru mencantumkan Timor-Leste sebagai salah satu dari 10 negara yang diproyeksikan bakal mengalami pertumbuhan ekonomi paling cemerlang tahun 2014.[3] Anggapan bahwa Timor-Leste bisa tumbuh tinggi karena relatif baru merdeka dan berawal dari tingkat yang rendah tidak cukup kuat. Di jajaran 10 besar ada Mongolia, Tanzania, Irak, Laos, dan Macau. Jika alasannya karena perekonomian Timor-Leste relatif sangat kecil, buktinya banyak perekonomian yang ukurannya kecil mengalami perkembangan tersendat-sendat. Bermuda dan Puerto Rico, misalnya, masuk dalam kelompok 10 besar yang pertumbuhannya tahun 2014 diproyeksikan paling buruk. Sebaliknya, negara sangat besar bisa juga tumbuh tinggi seperti China.

Pertumbuhan ekonomi Timor-Leste pada mulanya berfluktuasi tajam karena ketergantungan perekonomiannya terhadap minyak dan kopi. Laju inflasi cukup tinggi, hampir selalu dua digit. Penyebab utamanya adalah persoalan supply bottlenecks. Walau demikian, sejak 2007 pertumbuhan ekonomi tidak lagi berfluktuasi tajam, bahkan hampir selalu di atas 10 persen dan diperkirakan berlanjut hingga tahun 2015.

Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah pemilihan umum yang lalu, sejumlah inisiatif telah digulirkan untuk memperkokoh landasan bagi pertumbuhan berkelanjutan, seperti pelayanan satu atap dalam  perizinan usaha, penyiapan undang-undang pertanahan, menghapuskan monopoli di jasa telekomunikasi dengan kehadiran dua pelaku baru, pembenahan bandara, dan konsultasi publik tentang undang-undang pertambangan. Jika Timor-Leste diuntungkan oleh keputusan arbitrase atas the maritime treaty yang mengatur the greater sunrise gas and condensate field, masa depan penerimaan negara dari sektor migas bakal lebih pasti. Jika di Indonesia kekayaan minyak sudah menjelma menjadi semacam “kutukan”, bagi Timor-Leste sangat berpotensi sebagai “berkah”. The Petroleum Fund, yang merupakan sovereign wealth funds negara, sudah mencapai 14 miliar dollar AS pada Juli 2013, naik dari 11,8 miliar dollar AS pada akhir 2012. The Petroleum Fund relatif cepat mengakumulasi karena hanya sebagian kecil penerimaan Negara dari minyak yang dialirkan ke anggaran Negara bagi kebutuhan generasi sekarang. Sebagian besar sisanya dikelola untuk kepentingan generasi yang akan datang demi menegakkan keadilan antargenerasi. Dalam kasus Indonesia, seluruh penerimaan minyak (bagi hasil minyak dan pajak keuntungan perusahaan minyak) yang pada tahun 2012 sebesar Rp 177 triliun habis dibelanjakan, bahkan masih kurang untuk menutup subsidi BBM sebesar Rp 240 triliun. Hal lain yang patut dikagumi dari Timor-Leste adalah kesungguhan pemerintah melindungi rakyatnya dari goncangan eksternal dan internal. Social protection index versi Asian Development Bank Timor-Leste menunjukkan Timor–Leste berada di urutan ke-11, jauh di atas Indonesia yang tercecer di urutan ke-27 dari 35 negara di Asia. Pemerintah Timor-Leste tak menunggu kaya untuk melindungi rakyatnya dari goncangan gelombang globalisasi yang juga merasuki negeri tetangga terdekat kita.

Kita sepatutnya cepat sadar akan kesalahan di masa lalu, mau mengubah pola pikir yang mengedepankan kepentingan rakyat banyak dan menegakkan keadilan. Informasi tambahan Timor-Leste (Indonesia): Penduduk 1,2 juta jiwa (246,9 juta jiwa) Pertumbuhan penduduk 2,9% (1,2%) Luas daratan 14.870 km2 (1.904.570 km2) GDP (PPP, international $) USD2,1 miliar (USD1,2 triliun) GDP per capita (PPP, international $) USD1.709 (USD4.956)
http://www.kompasiana.com/faisalbasri/timor-leste-sudah-menyusul-indonesia_552bd15d6ea834c02a8b4581

Faktor yang mempengaruhi timor leste :
Latar Belakang: Timor-Leste merupakan negara baru, akan tetapi berdasarkan data BPS 2000-2013 pendapatan perkapita negara Timor-Leste menduduki posisi di atas pendapatan perkapita dari beberapa negara ASEAN lainnya. Sebagai negara baru hal ini merupakan prestasi yang baik dengan didukung oleh faktor-faktor Ekspor, Investasi Asing, Inflasi dan Tenaga Kerja yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Timor-Leste. Berdasarkan data dari BPS Timor-Leste Pedapatan perkapita TimorLeste pada 2000-2007 sebesar US$ 0,390-0,553 juta/ kapita kemuidan pada 2008- 2013 pendapatan perkapita sebesar US$ 0,671 -1,339 juta/ kapita. Tujuan:Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Ekspor, Investasi Asing, Inflasi dan Tenaga Kerja terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Gross Domestic Product) TimorLeste 2000-2013. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kuantitatif dengan mengambil data sekunder runtut waktu (Time Series) yang menganalisis tentang pengaruh variabel-variabel seperti inflasi, investasi, jumlah tenaga kerja, ekspor terhadap nilai GDP (Gross Domestik Product) di Timor-Leste tahun 2000-2013. Analisis data menggunakan uji regresi linier berganda dengan tingkat ketelitian 95%. Model Hipotesis: LnY =1.170+0,100LnX1+0.121LnX2-0,020LnX3+0,368LnX4+e. Uji Statistik; Uji t (Uji secara Individu), Uji F (Uji secara Bersama-sama), Koefisien Determinasi (R2), Koefisien Korelasi (r), Koefisien Elastisitas (B). Uji Asumsi Klasik; Uji Multikolinearitas, Heteroskedastisitas, Uji Autokolerasi Hasil Penelitian: (1) Ekspor, Investasi Asing, Inflasi dan Tenaga Kerja secara bersama-sama atau secara simultan berpengaruh terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Gross Domestic Product) Timor-Leste 2000-2013 pada α = 5% sebesar 98,9% sedangkan sisanya 1,1% dipengaruhi oleh faktor lain. (2) Variabel yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai GDP adalah ekspor, investasi Asing, dan tenaga kerja pada α = 5%. (3) Variabel yang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai GDP adalah nilai inflasi pada α = 10%. Disarankan Pemerinhan negara Timor-Leste untuk meningkatkan ekspor dan menurunkan impor, inflas, maka pemerintah dan masyarakat harus menaruh perhatian penuh pada potensi-potensi SDA untuk kemajuan ekspor dan barang-barang komoditi ekspor. Untuk meningkatkan pengaruh investasi, menciptakan lapangan kerja, memberikan pelatihan kepada angkatan kerja baik formal maupun non formal, pendidikan alternatif, promosi produk-produk dalam negeri ke pasar internasional, pariwisata, dll. Factor penghambat pengembangan investasi dan masalah infrastruktur harus mendapat perhatian penuh dari masyarakat dan pemerintah. Kata Kunci: Pertumbuhan Ekonomi Timor-Leste, Jumlah Penduduk dan Nilai GDP

Tiga Penyebab Utama Kegagalan Ekonomi Yunani


Seorang pria tunawisma tidur berselimutkan kardus di pelataran sebuah toko yang tutup di pusat kota Athena, Yunani.(ANDREAS SOLARO / AFP)

Meski telah mendapatkan bantuan 240 miiar euro atau lebih dari Rp 3.500 triliun sejak 2010, ekonomi Yunani tetap terpuruk dan hingga kini Negeri Para Dewa itu masih terlilit utang.
Padahal negara-negara zona euro lainnya yang sempat mengalami krisis finansial sudah mulai membaik dan pertumbuhan ekonominya mulai bergerak positif.
Kini Yunani harus menggelar referendum untuk meminta pendapat rakyat apakah akan negeri itu harus menjalankan semua persyaratan yang diminta, termasuk penghematan untuk mendapatkan bantuan keuangan dari IMF atau menolak berbagai persyaratan reformasi ekonomi meski berisiko bangkrut karena gagal membayar utang yang jatuh tempo pada Selasa mendatang.
Sebenarnya apa penyebab utama krisis finansial di Yunani?
Krisis finansial global
Setelah bergabung dengan zona mata uang euro pada 1 Januari 2001, Yunani yang memiliki banyak utang langsung menjadi korban pertama krisis finansial global yang muncul pada 2007-2008.
Imbas krisis finansial global ini tak hanya dirasakan Yunani namun juga membebani 19 negara zona euro karena harus ikut membantu membenahi perekonomian negeri itu.
Risiko krisis ekonomi semakin besar ketika partai radikal sayap kiri Syriza yang menolak berbagai syarat pengucuran dana talangan memenangkan pemilu.
Perlahan-lahan krisis finansial Yunan memburuk. Utang negara mencapai 107 persen dari penghasilan nasional pada 2007 menjadi 177 persen pada tahun lalu. Angka ini jauh di atas batas yang ditetapkan Uni Eropa yaitu 60 persen.
Berdasarkan data badan pengelolaan utang Yunani, pada Maret tahun ini beban utang negara itu mencapai 312,7 miiar euro atau sekitar Rp 4.600 triliun alias 174,7 persen di atas GDP.
Dalam hal moneter, dengan posisi utang Yunani tahun lalu sebesar 317 miliar euro maka IMF, salah satu kreditor terbesar negeri itu, tak bisa melanjutkan lagi untuk memberikan pinjaman.
Reformasi ekonomi yang gagal
Selama ini, Yunani diselamatkan dua paket bantuan besar. Pertama adalah bantuan 110 miliar euro dari Uni Eropa, IMF dan Bank Sentral Eropa (ECB), dengan syarat Yunani harus melakukan reformasi ekonomi drastis.
Saat situasi ekonomi memburuk, Yunani mendapatkan bantuan dana talangan kedua pada 2012. Bantuan ini termasuk pinjaman sebesar 130 miliar euro dan penghapusan utang sebesar 107 miliar euro oleh para kreditor swasta.
Namun, pencairan bantuan tahap terakhir sebesar 7,2 miiar euri tertunda karena pemerintah Yunani sedang bernegosiasi dengan para kreditor terkait program  reformasi ekonomi terbaru.
Langkah penghematan yang dilakukan pemerintah langsung memberikan efek merusak kepada perekonomian. Dari 2010 hingga 2013, pendapatan rata-rata rakyat Yunani menurun hingga lebih dari 3.000 euro dan angka pengangguran meningkat tiga kali lipat antara 2008-2013.
Tahun lalu sempat muncul perbaikan, setelah lima tahun yang menyakitkan perekonomian Yunani akhirnya tumbuh, defisit keuangan berkurang dari 13,5 persen dari GDP menjadi hanya 1,6 persen.
Namun, kas negara tetap kosong di saat pemerintah berjuang keras mengumpulkan pajak, terutama dari gereja dan usaha pengiriman barang, sementara sebagian besar dana segar negeri itu ditumpuk di luar negeri.
Politik dinasti
Di panggung politik, selama lima dekade terakhir perpolitikan negeri itu hanya dikuasi tiga dinasti keluarga.
Golongan kiri-tengah dipimpin klan Papandreou dengan George Papandreou yang berkuasa sebelum seorang kolonel AD menggantikannya pada 1967-1974.
Putra George, Andreas kemudian menduduki tampuk kekuasaan, menciptakan partai politik Pasok dan menjadi kepala negara berhaluan sosialis pertama di Yunani pada 1981.
Kekuasaan klan ini masih berlanjut dengan sang cucu George yang menjabat perdana menteri pada Oktober 2009 hingga November 2011.
Di sisi kanan, terdapat dinasti Karamanlis dan Mitsotakis. Constantine Karamanlis memimpin pemerintahan setelah sang kolonel AD terdepak pada 1974. Constantine menjadi presiden Yunani periode 1980-1985 dan 1990-1995.
Sepupunya, Costas Karamanlis juga pernah berkuasa pada 2004-2009. Lalu ada Constantine Mitsotakis yang menjadi perdana menteri pada 1990-1993 yang adalah Eleftherios Venizelos, perdana menteri Yunani pada era Perang Dunia I dan merupakan tokoh yang membawa Yunani memasuki dunia modern.
Dua anak Constantine, Dora Bakoyannis dan Kyriakos Mitsotakis, pernah menduduki jabatan menteri dalam pemerintahan.
Pada 25 Januari 2015, partai Syriza memenangkan pemilu dengan meraih 149 kursi dari 300 kursi parlemen. Pemimpin partai ini Alexis Tsipras membentuk pemerintahan koalisi dengan kelompok sayap kanan populer Partai Kemerdekaan Yunani.
Kekuatan ketiga dalam perpolitikan Yunani adalah partai neo-Nazi Golden Dawn yang meraup 17 kursi di parlemen.

Faktor yang mempengaruhi negara yunani:
Krisis utang yang melanda zona Eropa menjadi babak baru  ekonomi negara-negara Eropa menuju resesi. Krisis ini  pada perkembangannya melanda hampir seluruh negara-negara Eropa pengguna mata uang Euro. Krisis yang berawal dari kredit macet di Yunani yang kemudian berdampak luas bagi negara-negara Eropa lain. Negara-negara penyokong ekonomi Eropa seperti Jerman, Perancis dan Italia juga terkena imbas dari krisis tersebut. Euro kemudian tertekan dan mengakibatkan penurunan angka pertumbuhan ekonomi negara-negara di zona Euro.
Sebelum krisis ekonomi ini terjadi, perjalanan sejarah Uni Eropa sebenarnya nyaris penuh dengan keberhasilan. Tahun 1995 hampir seluruh negara Eropa Barat bergabung. Tahun 1998 sistem keuangan Eropa terintegrasi dalam mata uang tunggal:  Euro. Tahun 2004 bertambah lagi 10 negara  anggota  baru. Mereka adalah negara-negara ex-komunis Eropa Timur. Ini menjadikan Uni Eropa sebagai kekuatan ekonomi besar di dunia sekaligus menjadi contoh organisasi regional terbaik  di  dunia. Wajar saja kalau keberadaannya dikagumi oleh organisasi regional manapun di dunia. Bahkan pada tahun 2012 Uni Eropa mendapatkan hadiah nobel untuk perannya menyatukan benua biru tersebut (Reuters 2012).
Namun, optimisme terhadap Uni Eropa berbalik dan membuat harapan itu goyah dengan adanya krisis ekonomi yang mulai melanda Uni Eropa pada tahun 2008. Dampaknya masih dirasakan hingga saat ini. Krisis ekonomi tersebut telah membuat Uni Eropa mulai memasuki fase-fase sulit. Badai krisis yang dialami negara-negara Eropa memiliki ‘efek domino’ terhadap negara-negara Eropa lain. Jika dilihat kembali dari tahapan-tahapan integrasi menurut Ballasa (1963) Uni Eropa telah melewati berbagai tahapan hingga terciptanya EMU dan mata uang tunggal. Hal ini menandakan bahwa Eropa berada pada proses integrasi ekonomi yang terus meningkat, bahkan dengan dikeluarkannya perjanjian Stability Growth Pact  (SGP)1 pada 2003 dan ditanda-tanganinya  Fiscal Compact pada awal 2012, tahapan integrasi ekonomi ini sudah sepenuhnya terjadi .
Krisis di Eropa merupakan dinamika rumit antara politik dan ekonomi. Seperti yang telah kita ketahui bahwa kawasan Eropa secara global sedang mengalami krisis moneter yang disebabkan hutang Negara Yunani kemudian merebak ke Irlandia dan Portugal serta akhirnya imbasnya menimbulkan efek domino seperti yang dijelaskan diatas. Istilah efek domino diambil dari analogi sebuah permainan domino, dimana ketika satu domino jatuh kearah barisan domino selanjutnya semuanya akan jatuh terus-menerus sampai akhirnya tak satupun domino berdiri. Definisi dari analogi tersebut adalah penyebaran suatu perubahan yang dapat menjalar terus-menerus dalam reaksi berantai sampai masalah tersebut dapat dihentikan. Efek domino tersebut adalah keadaan yang terjadi pada krisis Yunani masa kini. Keparahan efek domino tersebut dapat dilihat dari Negara-negara maju yang telah dipengaruhi oleh krisis ekonomi Yunani dan potensi untuk krisis ekonomi menjalar ke hampir seluruh kawasan Uni Eropa.
Krisis Eropa yang diawali dengan kejatuhan perekonomian Negara anggota Uni Eropa yang dipicu oleh melonjaknya beban utang dan defisit Negara anggota Uni Eropa terutama Yunani. Pengeluran pemerintah yang begitu banyak serta keserakahan beberapa Negara di Eropa seperti Yunani, Portugal, Irlandia, dan Spanyol menyebabkan pemerintah kesulitan dalam membayar hutang khususnya kepada bank dan lembaga keuangan lain dan tentunya hal ini akan menjalar ke pihak lain. Kesaling-terkaitan  antara berbagai bank dan lembaga keuangan akan berdampak pada meluasnya dampak krisis keuangan ini ke banyak Negara Eropa termasuk Jerman dan Perancis. Di luar Eropa, Negara yang keuangan pemerintahnya tidak baik akan mudah terkena dampak ini, termasuk Jepang. Terutama Negara-negara yang menggantungkan pada kegiatan ekspor impor akan terkena dampak krisis ekonomi global ini.
China dan India yang sering diharapkan sebagai “Negara Penyelamat” krisis ekonomi global, karena pertumbuhan ekonomi mereka yang amat tinggi dalam sepuluh tahun terakhir pun akan terkena dalam krisis ekonomi Eropa. Pertumbuhan ekonomi China telah menurun, walau relative masih amat tinggi. Penurunan pertumbuhan ekonomi China akan berdampak pada banyak Negara di Asia termasuk Asia Tenggara.


Bisnis.com, JAKARTA – Kendati China disebut-sebut sebagai negara dengan tingkat pertumbuhan paling tinggi dunia dalam setidaknya satu dekade terakhir, World Economic Forum (WEF) mencatat sejumlah negara pun tumbuh serupa bahkan lebih tinggi dari Negeri Tembok Raksasa.
Dalam laporannya yang bertajuk Global Economic Prospect, WEF merilis setidaknya 13 negara termasuk ke dalam negara dengan pertumbuhan paling tinggi dunia dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 7% dalam lima tahun terakhir.
Kendati tumbuh tinggi, WEF mengungkapkan ketigabelas negara tersebut pun masih belum lepas dari persoalan ketimpangan, nilai PDB rendah, korupsi merajalela, dan ketidakstabilan situasi politik. Berikut ketigabelas negara dengan pertumbuhan paling tinggi di dunia :
1. Ethiopia dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 9,7%
Ekonomi Ethiopia ditopang oleh sektor pertanian dan kini pemerintah tengah menggenjot kinerja sektor-sektor lain seperti manufaktur, tekstil, dan energi. Meski angka pertumbuhan ekonominya tinggi, nilai PDB Ethiopia termasuk salah satu yang paling rendah di dunia.
2. Turkmenistan dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 9,07%
Perekonomian Turkmenistan hingga saat ini dibangun di tengah mental korupsi yang sulit diberantas. Dua sektor utama yang menopang pertumbuhan yaitu perkebunan dengan komoditas utama kapas dan gas alam. Seperti diketahui, saah satu bekas Soviet ini merupakan pemasok gas terbesar keempat di dunia. Turkmenistan mengekspor gasnya ke China, dan sejumlah negara Eropa.
Selain korupsi, Turkmenistan pun masih harus menyudahi beberapa persoalan pelik negaranya yaitu sistem pendidikan yang buruk, pengelolaan pendapatan dari minyak dan gas, dan keharusan melakukan reformasi pasar.
3. Kongo dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 8,62%
Republik Demokratik Kongo merupakan negar ayang juga menggantungkan sumber pertumbuhannya pada sumber daya alam. Sayangnya, hingga saat ini pemanfaatan sumber daya alam belum maksimal karena sistem pemerintahan yang penuh konflik dan situasi politik yang tidak stabil.
4. Myanmar dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 8,3%
Myanmar merupakan salah satu negara paling miskin di Asia Tenggara. Kendati tumbuh tinggi, perekonomiannya sebenarnya terbilang mengalami perlambatan sejak 2011 karena amat dipengaruhi pertumbuhan ekonomi global.
Saat ini, Myanmar memiliki jumlah besar masyarakat usia pekerja, sumber daya alam, dan tengah berupaya menarik investasi asing.
5. Uzbekistan dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,87%
Uzbekistan juga merupakan salah satu negara pecahan Uni Soviet dan saat ini tengah berupaya bergerak menuju perekonomian yang berbasis pasar. Uzbekistan merupakan negara pengekspor kapas terbesar kelima di dunia dan juga merupakan negara yang kaya akan gas dan emas.
Saat ini, Uzbekistan tengah berupaya menekan tingginya tingkat pekerja anak di perkebunan kapas.
6. Pantai Gading dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,8%
Sekitar 65% populasi Pantai Gading bekerja di sektor pertanian. Negara ini merupakan produser dan eksportir terbesar biji coklat di dunia, dan merupakan pemain besar pada industri kopi dan minyak kelapa sawit.
7. Papua Nugini dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,6%
Sekitar 85% dari populasi Papua Nugini bekerja di sektor pertanian. Beberapa hasil alam negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia ini diekspor dalam jumlah besar yaitu emas, tembaga, dan minyak.
Saat ini pemerintah Papua Nugini tengah berupaya menyelesaikan beberapa persoalan menahun seperti dalam bidang investasi, privatisasi beberapa institusi, dan mengembalikan kejayaan lembaga negara.
8. India dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,57%
Bukan rahasia lagi, India yang karakternya tidak jauh berbeda dengan Indonesia ini memang sedang mengalami transisi perekonomian. Kinerja Perdana Menteri Narendra Modi yang baru menjabat setahun dipuji-puji berbagai kalangan termasuk analis dan kritikus Negeri Bollywood.
Pertumbuhan ekonomi India ditopang oleh sektor jasa, berkontribusi 65% terhadap total PDB nasional. Saat ini, PM Modi tengah berupaya menyelesaikan persoalan korupsi, kemiskinan, dan diskrimiasi terhadap perempuan.
9. Bhutan dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,55%
Pertumbuhan ekonomi Bhutan amat bergantung pada sektor pertanian dan kehutanan. Bhutan juga merupakan pengekspor hydropower ke India. Saat ini pemerintah Bhutan sedang menggenjot pembangunan infrastruktur.
10. Mozambik dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,3%
Mozambik tercatat sebagai salah satu negara yang dalam beberapa tahun terakhir berhasil menarik investasi asing dalam jumlah besar untuk merealisasikan proyek-proyek untuk memaksimalkan potensi sumber day alam.
Beberapa analis meyakini Mozambik pun akan mampu mengeruk pendapatan dari gas dan batu bara jika dimaksimalkan pengelolaannya. Sebagai informasi, lebih dari setengah populasi Mozambik hidup di bawah garis kemiskinan.
11. Tanzania dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,15%
Pertumbuhan ekonomi Tanzania terus melejit karena produksi emas yang melimpah dan didukung oleh sektor pariwisata yang dikelola dengan baik. Tanzania juga menggenjot pendapatan dari sektor lain seperti telekomunikasi, perbankan, energi, dan pertanian.
12. Rwanda dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,12%
Sekitar 90% populasi Rwanda bekerja di sektor pertanian dan mineral. Sektor lain yang juga menopang perekonomian Rwanda yaitu pariwisata dan perkebunan dengan hasil utama teh dan kopi.
13. China rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,10%
Perekonomian China tumbuh masif sejak pemerintah negara itu menggenjot sektor manufaktur yang melambungkan nilai ekspor. Tak sedikit analis menyebut dalam sedikitnya satu dekade lagi, perekonomian China akan melampaui Amerika Serikat.
Kendati demikian, pendapatan perkapita negara ini masih di bawah rata-rata dunia.
NASDAQ MarketSite di Times Square.

Ekonomi New York City adalah ekonomi reegional terbesar di Amerika Serikat dan terbesar kedua di dunia setelah Tokyo.[1] Dibantu Wall Street di Lower Manhattan, New York City merupakan ibu kota keuangan dunia bersama kota London[2][3][4][5][6][7][8] dan merupakan tempat berdirinya New York Stock Exchange, bursa saham terbesar di dunia menurut kapitalisasi pasar perusahaan terdaftar. New York dikenal karena konsentrasi firma sektor jasa yang tinggi dalam bidang hukum, akuntansi, perbankan dan konsultan manajemen.[9]
Industri keuangan, asuransi, kesehatan, dan lahan yasan membentuk dasar ekonomi New York. Kota ini juga merupakan pusat media massa, jurnalisme dan penerbitan yang penting di Amerika Serikat, dan merupakan pusat seni utama di negara ini. Industri kreatif seperti media baru, periklanan, mode, desain dan arsitektur mengalami pertumbuhan cepat dengan keuntungan kompetitif kuat yang dipegang New York City dalam industri-industri ini.[10] Industri manufaktur masih memainkan peran penting meski semakin menurun jumlahnya.
New York Stock Exchange sampai saat ini merupakan bursa saham terbesar di dunia menurut kapitalisasi pasar perusahaan terdaftar. Bursa elektronik NASDAQ memiliki jumlah perusahaan terdaftar terbanyak dan merupakan yang terbesar ketiga di dunia menurut kapitalisasi pasar perusahaan terdaftar.
Wilayah metropolitan New York memiliki produk metropolitan bruto senilai $1,13 trilyun pada tahun 2005,[11][12] ekonomi regional terbesar di Amerika Serikat.[13] Ekonomi kota ini menyumbang sebagian besar aktivitas ekonomi di negara bagian New York dan New Jersey.[13]

Daftar isi

·         2Lihat pula
·         3Catatan kaki
·         4Pranala luar

Perusahaan Fortune 500 di New York City

Peringkat
NYC
Peringkat
AS
Peringkat
dunia
Perusahaan
Laba
(juta)
Karyawan
(dunia)
Kelompok industri
1
13
36
$115,475
239,831
Commercial Banks
2
14
39
$111,055
260,000
Commercial Banks
3
16
41
$106,565
194,400
Telecommunications
4
17
44
$104,417
63,000
Property and Casualty Insurance (stock)
5
31
103
$67,809
110,600
Pharmaceuticals
6
46
174
$52,717
54,000
Life and Health Insurance (stock)
7
51
176
$46,940
729
Diversified Financials
8
54
181
$45,967
38,700
Commercial Banks [formerly Securities]
9
63
218
$39,320
62,542
Commercial Banks [formerly Securities]
10
71
258
$34,947
16,068
Life and Health Insurance (mutual)
11
74
263
$34,613
13,776
Petroleum Refining
12
83
284
$32,778
51,000
Entertainment
13
87
296
$32,225
7,312
Life and Health Insurance (mutual)
14
91
319
$30,242
61,000
Commercial Banks
15
94
331
$27,208
78,300
Tobacco
16
95
274
$26,888
31,000
Entertainment
17
106
389
$25,112
32,000
Property and Casualty Insurance (stock)
18
127
465
$21,013
59,000
Metals
19
131
$19,484
27,000
Pharmaceuticals
20
137
$18,868
47,030
Telecommunications
21
159
$15,680
63,000
Aerospace and Defense
22
160
$15,680
39,200
Household and Personal Products
23
165
$14,929
48,000
Commercial Banks
24
168
$14,621
18,400
Property and Casualty Insurance (stock)
25
174
$14,060
25,380
Entertainment
26
180
$13,497
10,900
Entertainment
27
184
$13,325
15,180
Utilities: Gas and Electric
28
195
$12,543
65,500
Advertising, Marketing
29
225
$10,931
51,000
Diversified Financials
30
226
$10,863
42,000
Household and Personal Products
31
245
$10,051
4,812
Life and Health Insurance (mutual)
32
256
$9,668
698
Securities
33
270
$9,119
56,647
Motor Vehicles and Parts
34
282
$8,612
9,127
Securities
35
285
$8,528
13,938
Property and Casualty Insurance (stock)
36
307
$7,796
31,200
Household and Personal Products
37
355
$6,532
41,000
Advertising, Marketing
38
364
$6,363
3,778
Commercial Banks
39
372
$6,168
21,000
Publishing, Printing
40
374
$6,138
12,350
Telecommunications
41
395
$5,811
35,000
Specialty Retailers (books)
42
446
$5,049
25,348
Specialty Retailers: apparel
43
451
$4,979
19,000
Apparel
44
479
$4,637
16,600
Apparel
45
495
$4,425
2,968
Securities
Catatan: IAM: sebelumnya International Assets Management; NYSE: mengoperasikan New York Stock Exchange & bursa lain
Sumber: Situs web Fortune 500, Fortune Global 500 dan Fortune, Volume 163, Number 7 (23 Mei 2011)
Peringkat menurut laba pada tahun fiskal yang berakhir sebelum 1 Februari 2011. Peringkat dunia menurut laba Fortune Global 500 untuk tahun fiskal yang berakhir sebelum 1 April 2011.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar