Rabu, 24 Mei 2017

Kebijakan Fiskal Beberapa Negara

Kebijakan fiskal



Kebijakan fiskal merujuk pada kebijakan yang dibuat pemerintah untuk mengarahkan ekonomi suatu negara melalui pengeluaran dan pendapatan (berupa pajak) pemerintah. Kebijakan fiskal berbeda dengan kebijakan moneter, yang bertujuan men-stabilkan perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga dan jumlah uang yang beredar. Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran dan pajak. Perubahan tingkat dan komposisi pajak dan pengeluaran pemerintah dapat memengaruhi variabel-variabel berikut:
  • Permintaan agregat dan tingkat aktivitas ekonomi
  • Pola persebaran sumber daya
  • Distribusi pendapatan
Pemerintah yang menjalankan kebijakan fiskal adalah dengan maksud untuk mempengaruhi jalannya perekonomian atau dengan perkataan lain, dengan kebijakan fiskal pemerintah berusaha mengarahkan jalannya perekonomian menuju keadaan yang diinginkannya. Dengan melalui kebijakan fiskal, antara lain pemerintah dapat mempengaruhi tingkat pendapatan nasional, dapat mempengaruhi kesempatan kerja, dapat mempengaruhi tinggi rendahnya investasi nasional, dan dapat mempengaruhi distribusi penghasilan nasional.

Dan berikut adalah Beberapa kebijakan yang telah dibuat oleh beberapa Negara :

1. Jepang

Setelah krisis keuangan global 2008 silam perekonomian global nampaknya belum mampu kembali mencapai titik pertumbuhan terbaiknya seperti sebelum krisis. Pertumbuhan ekonomi global selama lima tahun terakhir hanya mampu tumbuh di kisaran angka 3%. Padahal sebelumnya perekonomian global dapat mencapai angka pertumbuhan ekonomi di atas 4%.
Rendahnya pertumbuhan ekonomi global disebabkan oleh melemahnya pertumbuhan negara-negara maju penyokong pertumbuhan global seperti Amerika Serikat (AS), Jerman dan Jepang. Jepang bahkan menjadi salah satu negara dengan perlambatan ekonomi paling signifikan setelah krisis 2008. Setelah krisis pertumbuhan ekonomi Negeri Matahari Terbit tersebut hanya berkisar di kisaran 1%. Bahkan pada tahun 2011 dan 2014 Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi minus di bawah 1%.
Pemerintah Jepang dan negara maju bukannya tanpa solusi. Pemerintah negara maju dalam lima tahun terakhir mengandalkan kebijakan moneter untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi. Kebijakan seperti quatitative easing (QE) dan suku bunga negatif banyak dipakai buat mempertahankan permintaan agregat, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mencegah deflasi.
Secara sederhana kebijakan QE adalah kebijakan mencetak uang oleh bank sentral yang nantinya digunakan untuk membeli obligasi jangka pendek dan panjang. Sementara kebijakan suku bunga negatif adalah kebijakan memotong suku bunga acuan bank sentral hingga dibawah 0%. Kedua kebijakan ini diharapkan dapat menambah likuiditas di swasta maupun di masyarakat.
Sayangnya tidak semua kebijakan ini berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi negara maju secara signifikan. Kebijakan suku bunga negatif misalnya tidak berhasil di Jepang. Kebijakan ini gagal karena perbankan tidak menyalurkan likuiditas ke sektor riil. Hal ini disebabkan permintaan dari sektor riil yang sedang menurun dan risiko yang lebih besar. Pada akhirnya bank swasta memilih menahan likuiditas dan tetap menyimpan di bank sentral meskipun merugi akibat suku bunga yang negatif.
Sementara untuk kebijakan QE, bank sentral kemungkinan menghadapi risiko kehabisan stok obligasi untuk dibeli, seperti yang saat ini dialami European Central Bank (ECB). Kurang efektifnya dua kebijakan moneter dapat dilihat dari rendahnya pertumbuhan ekonomi Jepang dan Uni Eropa yang selama lima tahun terakhir pertumbuhan rata-rata ekonominya hanya mencapai 0,5% (Jepang) dan 0,4% (Uni Eropa). Dengan kondisi demikian, pemerintah negara maju mulai beralih menggunakan instrumen kebijakan fiskal. Apalagi kebijakan ini didukung fakta makin membaiknya indikator fiskal negara maju seperti berkurangnya defisit anggaran pemerintah serta menurunnya jumlah hutang (Nouriel Rubini,2016).
Kebijakan fiskal yang sering digunakan untuk menstimulus perekonomian umumnya menggunakan instrumen fiskal ekspansif. Salah satu ciri kebijakan fiskal ekspansif ialah anggaran belanja menitikberatkan pada belanja infrastruktur, militer dan lainnya. Nantinya kebijakan ini diharapkan menciptakan multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi.
Kebijakan ini diprediksi akan diterapkan di kawasan Uni Eropa serta negara Jepang, dan AS. Di Jepang, pemerintah memutuskan untuk menunda kenaikan pajak konsumsi tahun depan dan menambah anggaran belanja pemerintah. Sementara di Uni Eropa, Jerman akan membelanjakan anggaran lebih banyak untuk keperluan pengungsi, pertahanan keamanan, serta Infrastruktur.
Adapun terpilihnya Donald Trump sebagai presiden baru AS akan mendorong pembangunan infrastruktur secara masif di AS. Donald Trump bersiap menganggarkan anggaran hingga US$ 530 triliun hingga beberapa tahun ke depan untuk membangun infrastruktur. Disamping itu Trump juga akan menambah anggaran untuk belanja militer.
Kebijakan fiskal yang ekspansif tentu memerlukan anggaran yang tidak sedikit. Untuk memenuhi pembiayaan anggaran, pemerintah negara maju akan menggenjot penerimaan pajak serta gencar menerbitkan obligasi pemerintah untuk menutupi kekurangan anggaran belanja. Hal ini didukung rencana kenaikan Fed Fund Rate (FFR) dan tapering quantitative easing oleh ECB yang berdampak pada kenaikan yield US bond treasury.
Kenaikan yield US bond treasury diprediksi akan diikuti naiknya yield bond emerging market seperti Indonesia. Imbal hasil surat utang negara (SUN) diprediksi meningkat untuk mengantisipasi tertekannya permintaan obligasi pemerintah Indonesia secara signifikan akibat capital outflow yang kembali ke developed market seperti UE, Jepang atau AS. 
Konsolidasi fiskal
Apalagi saat ini, penerbitan SUN sangat diperlukan untuk membiayai anggaran belanja pemerintah yang tengah masif membangun infrastruktur. Namun meningkatkan imbal hasil SUN bukannya tanpa risiko, kenaikan imbal hasil SUN pada gilirannya akan meningkatkan beban utang pemerintah. Hal ini menjadi masalah mengingat bunga utang pemerintah saat ini sudah sedemikian besar. Dalam kajian CORE Economic Outlook 2017 disebutkan selama 2011-2016 beban hutang pemerintah Indonesia telah meningkat 255% dan akan meningkat secara persisten dalam dua tahun kedepan. Meningkatnya beban hutang akan berpengaruh terhadap melebarnya angka defisit anggaran.
Melebarnya defisit sendiri tentu berisiko terhadap keberlanjutan pengelolaan fiskal dan turunnya rating investasi oleh lembaga pemeringkat internasional. Untuk mengantisipasi agar ini tidak terjadi langkah konsolidasi fiskal perlu dilakukan pemerintah. Program pengampuan pajak yang telah dilaksanakan perlu dilanjutkan dengan reformasi pajak secara fundamental.
Reformasi pajak harus dilakukan secara fundamental. Di antaranya memberikan kemudahan pelayanan pajak bagi WP dari sisi prosedur pembayaran pajak dan pelaporan, memperbanyak outlet pembayaran pajak dan lainnya. Ini perlu didukung kegiatan sosialisasi bagi WP lama dan program edukasi bagi WP baru. Selain itu penegakan hukum untuk penunggak pajak juga perlu diperkuat, mengingat angka kepatuhan pajak di Indonesia selama lima tahun terakhir bergerak di kisaran 40-50%.

Petrobras merupakan perusahaan minyak dan gas yang didirikan pada tahun 1953 pada masa kepemimpinan Getulio Vargas untuk menjaga sumber alam yang ada di negaranya.2 Petrobras menjadi salah satu perusahaan minyak terbesar di Amerika Latin sejak pendiriannya, dan merupakan perusahaannya minyak non-OPEC yang melakukan ekspor hampir di seluruh dunia. Pada industri minyak, gas dan energi, operasi Petrobras diintegrasikan, mengkhususkan dalam eksplorasi dan produksi, penyulingan, pemasaran, minyak dan transportasi gas alam, petrokimia, distribusi produk minyak, listrik, biofuel dan sumber-sumber energi terbarukan lainnya Kekuatan kompetitif dari Petrobras berdampak pada peningkatan performa Petrobras baik domestik maupun internasional.

Petrobras dikenal merupakan perusahaan berpengaruh terbesar di Brazil bahkan Amerika Selatan.3 Hal ini dapat dibuktikan dengan proses produksi, penyulingan serta transportasi minyak mentah yang ada di Brazil memberikan kesempatan bagi Brazil untuk memiliki operasional infrastruktur yang maju. Sejarah panjang, sumber daya dan pemantapan kehadiran Petrobras dapat bersaing secara efektif dengan peserta pasar lainnya dan para pendatang baru dimana industri minyak dan gas di Brazil telah di deregulasi.

Petrobras memiliki basis cadangan yang kuat juga memberikan kekuatan dalam persaingan pasar dalam industri ini.4 Panemuan-penemuan cadangan minyak yang terdapat di laut dalam diperkiran menjadi cadangan terjamin bagi negara Brazil. Demi peningkatan cadangan minyak dan gas,Petrobras juga memiliki keahlian dalam tekonologi laut dalam yang menjadi pionir dalam teknologi ini di dunia internasional. Efisiensi biaya yang dilakukan menjadikan Petrobras memiliki kekuatan kompetitif lainnya.5 Efisiensi biaya dilakukan dengan operasi skala besar yang dikombinasikan dengan integrasi vertikal bagian bisnis.

Petrobras yang merupakan perusahaan minyak mentah dan gas alam terpadu yang dominan di Brazil memiliki beberapa alasan yang membuat perusahaannya memiliki biaya yang efisien. Posisi kuat yang dimiliki Petrobras memberikan kemampuan untu berpartisipasi dalam setiap aspek pasar minyak dan gas alam di Brazil.6 Dengan demikian, Petrobras mampu bersaing di dunia internasional dan sukses dalam menarik mintra internasional pada setiap kegiatan perusahaan. Selain keunggulan kompetitif, strategi yang digunakan Petrobras juga meningkatkan performa Petrobras.7 Petrobras mengkonsolidasikan dan meningkatkan keunggulan kompetitif di Amerika Selatan untuk minyak dan produk minyak.8 Hal ini dengan mengeluarkan modal untuk meningkatkan aktivitas produksi Petrobras.

Selektif memperluas aktivitas internasional secara terpadu dengan usaha perseroan yang berbasis pada aset dan secara terpadu dengan perusahaan-perusahaan internasional untuk meingkatkan performa internasional Petrobras. Petrobras mengembangkan dan memimpin pasar gas alam dan bertindak secara terpadu dalam pasar listrik dan gas alam di Amerika Selatan. Petrobras juga secara selektif memperluas aktivitas pasar petrokimia baik 
Jika reformasi pajak berhasil dilakukan maka pemerintah memperkecil risiko yang muncul dari kebijakan fiskal negara lain seperti peningkatan yield obligasi negara. Selain itu reformasi ini juga berpengaruh positif terhadap kesehatan fiskal Indonesia di masa depan. Namun jika melihat kasus korupsi yang menimpa salah satu oknum di institusi perpajakan baru-baru ini reformasi pajak akan menempuh jalan berliku.
2. China

Kementerian Keuangan China mengatakan Negara akan meluncurkan kebijakan fiskal yang "lebih tegas" guna mendorong pertumbuhan ekonomi, yang katanya sedang menghadapi tekanan pada Rabu ini.
Departemen Keuangan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka akan mengalokasikan dana lebih guna mendukung beberapa proyek infrastruktur dan menerapkan pemangkasan pajak untuk usaha kecil. Dan juga mengatakan akan mempercepat proses persetujuan untuk toko bebas pajak dalam upaya meningkatkan pembangunan.
Kementerian tersebut juga mengatakan akan mengeluarkan kuota utang bagi pemerintah daerah setelah legislator Negara di tahun yang mecatat utang pemerintah lokal sebesar 16 triliun yuan ($ 2.5 miliar).
Untuk membantu meringankan beban utang pemerintah lokal, Beijing telah menyetujui program pertukaran sebesar 3,2 triliun yuan yang memungkinkan pemerintah daerah untuk menjual obligasi untuk menggantikan program yg terdahulu.
Dalam pernyataan terbarunya, kementerian keuangan mengatakan bahwa pada 27 Agustus pemerintah daerah telah meningkatkan sebesar 1,82 triliun yuan terkait masalah utang. Hal ini setara dengan 48% dari total kuota yang diizinkan oleh pemerintah pusat, yang menunjukkan bahwa ada lebih banyak ruang bagi pemerintah daerah untuk mengumpulkan dana.
Ekonomi China melambat menjadi 7% pada kuartal kedua tahun ini, yang merupakan laju yang paling lambat dalam enam tahun terakhir. Data ekonomi pada bulan Juli dan Agustus menunjukan pelemahan dalam perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut meskipun serangkaian penurunan suku bunga bank sentral serta langkah kebijakan lainnya.
Para ekonom mengatakan Beijing perlu menerapkan kebijakan fiskal yang lebih proaktif dalam sisa tahun ini guna memberikan dorongan lebih lanjut untuk prekonomian.

3. Brazil

Kebijakan ekonomi merupakan hal yang penting bagi sebuah negara. Terbentuk dan disetujuinya kebijakan ekonomi akan menentukan masa depan negara tersebut dalam proses kehidupan ekonomi negaranya. Kebijakan ekonomi inilah yang akan menentukan sebuah negara akan mengalami pertumbuhan atau bisa memberikan kesejahteraan bagi penduduk di negaranya. Kebijakan ekonomi yang diambil oleh negara biasanya berdasarkan pada pandangan ekonomi politik pemimpin negara. 

Brazil mengalami masa transisi di negaranya beberapa kali, namun yang paling besar terjadinya transisi dari rezim militer ke pemerintahan demokrasi pada awal tahun 1990. Brazil mengalami keterpurukan ekonomi dengan tingkat inflasi tinggi dan tingkat pengangguran yang juga tinggi. Untuk menghidupi ekonomi negara Brazil berhutang pada IMF dan Bank Dunia untuk mengatasi masalah ekonomi negara. Namun sebaliknya, inflasi negara tetap tinggi pada akhir tahun 1990 pada masa pemerintahan Cardoso. Sehingga, pemerintahan selanjutnya harus menyelesaikan masalah pelik yang terus menerus terjadi di Brazil. 

Setelah beberapa kali gagal dalam pemilihan calon presiden, Lula da Silva akhirnya terpilih menjadi presiden Brazil dengan suara terbanyak pada tahun 2002, dan dilantik pada 1 Januari 2003.1 Lula da Silva berasal dari Partido dos Trabalhadores/PT atau Partai Buruh. Pada awal pemerintahan Lula da Silva, perubahan ekonomi belum terlihat karena pada tahun pertama pemerintahan Lula da Silva tingkat inflasi masih sangat tinggi. 

Lula da Silva diharapkan bisa membawa perubahan Brazil ke arah yang lebih baik. Lula da Silva merupakan pemimpin yang berpandangan politik centreleft. Orientasi kebijakan yang diambil Lula da Silva merupakan kebijakan yang pro rakyat. Namun Lula dari awal pemerintahan, sedikit banyaknya masih menggunakan kebijakan ekonomi yang neoliberal. Lula masih harus menggunakan kebijakan tersebut karena sejaka awal pemerintahan Brazil harus berurusan dengan lembaga keuangan internasional karena hutang yang dialami Brazil. Melanjutkan kepemimpinan dari presiden sebelumnya mengharuskan kebijakan yang diambil lebih kepada neoliberal. 

Pemerintahan Lula da Silva diharuskan untuk dapat mengejar target inflasi yang diberikan oleh IMF untuk melancarkan uang masuk dan keluar di negara tersebut. Ekonomi negara yang sulit dan sulitnya untuk mendapatkan pemasukan negara, Brazil menopang ekonominya melalui ekspor. Ekspor yang dilakukan oleh Brazil setiap tahunnya semakin maningkat, dan hasilnya pertumbuhan ekonomi Brazil pun semakin membaik. Lula da Silva disiplin dalam mengatur kebijakan fiskal, yang berarti pajak yang diterima dan yang dikeluarkan digunakan secara masksimal. 

Kebijakan ekonomi yang memaksimalkan ekspor, pada sektor-sektor yang ada di Brazil meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Dibantu oleh sektor industri minyak dan gas yang ada di Brazil melalui perusahaan minyak dan gas Petrobras.
domestik maupun regional. Adanya permintaan pasar menjadikan Petrobras selektif tampil dalam pasar energi terbarukan. Hal ini membuat Petrobras lebih mampu untuk bersaing dengan banyaknya produk energi terbarukan yang dibutuhkan. 

Petrobras sebagai perusahaan minyak dan gas terbesar di Brazil memberikan pengaruh besar terhadap ekonomi Brazil. Sehingga kebijakan ekonomi yang mempengaruhi Petrobras juga akan mempengaruhi ekonomi negara. Kebijakan ekonomi fiskal yang disiplin memberikan pengaruh terhadap perekonomian negara melalui pajak. 

Pajak yang didapatkan menjadi pemasukan negara sebagai anggaran belanja negara, dan juga bermanfaat sebagai pengeluaran untuk memberikan insentif bagi perusahaan-perusahaan besar untuk berkembang. Kebijakan fiskal yang disiplin ini, memberikan Petrobras kesempatan untuk maju dan berkembang. Kebijakan ekonomi yang seimbang antara kebijakan ekonomi fiskal dan moneter, memberikan Petrobras kesempatan untuk merasakan iklim investasi yang lebih tinggi. 

Tercapainya target inflasi mebuat banyak investasi dari dalam dan luar negeri untuk berinvestasi pada perusahaan yang ada di Brazil. Terjaminnya inflasi dan iklim perekonomian yang semakin berkembang di Brazil pada masa pemerintahan Lula da Silva ini, meningkatkan kerjasama Petrobras dengan perusahaan-perusahaan besar minyak dan gas lainnya yang ada di dunia. 

Kebijakan pertama adalah industrial, technological and international trade policy (PITCE- Industri, teknologi dan kebijakan perdagangan internasional) yang memfokuskan pada inovasi dan teknologi, ekspor dan institusionalisasi. Poin pertama, inovasi dan teknologi memberikan pengaruh pada aturan tentang inovasi dan teknologi yang berdampak pada peningkatan teknologi eksplorasi laut dalam Petrobras. Poin kedua, ekspor memberikan pengaruh terhadap peningkatan ekspor Petrobras yang berdampak pada peningkatan GDP, GDP per kapita, devisa negara dan investasi. 

Poin ketiga, institusionalisasi memberikan tugas pada lembaga-lembaga yang ada di pemerintahan untuk mengawasi sektor industri. Kebijakan kedua adalah Productive Development Policy (PDP- Kebijakan Pengembangan Produksi). Kebijakan ini memaksimalkan dalam mendorong inovasi, ekspor, dan investasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara melalui sektor industri. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan sektor industri dalam pengembangan perdagangan internasional. Bertambahnya inovasi perusahaan dan meningkatnya ekspor perusahaan, dapat menambah investasi bagi Petrobras untuk membantu negara dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 

Pemberian insentif terhadap sektor penting yang memiliki prioritas tinggi memberikan peningkatan bagi Petrobras untuk mengembangkan teknologi perusahaan baik di dalam maupun luar negeri dengan memanfaatkan insentif pemerintah. Insentif ini bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan ekspor dengan melakukan pemenuhan kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu. PDP memberikan kesempatan bagi Petrobras untuk semakin berkembang bersama sektor industri dalam negeri lainnya dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara.

4. Singapura

Singapura yang dikenal sebagai pusat industri jasa skala dunia, menghadapi pukulan berat saat terjadi krisis tahun 2008, hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonominya yang mengalami penurunan. Tahun 2008 menurun dari 1,87%pada tahun sebelumnya menjadi 0,14%. Bahkan pada tahun 2009 pertumbuhan Singapura sempat negatif -2,30%. Berdasarkan produk domestik bruto harga berlaku di atas maka nampak bahwa sektor jasa (perdagangan besar dan ritel) dan sektor industri yang memproduksi barang (manufaktur) adalah sektor yang paling mendominasi perekonomian Singapura. 

CEIC Singapura merupakan negara yang tergolong sangat maju dan berhasil menerapkan ekonomi pasar bebas. Negara tersebut dikenal dengan lingkungannya yang terbuka dan bebas dari korupsi, memiliki tingkat PDB per kapita lebih tinggi dari kebanyakan negara maju. Perekonomian Singapura sangat tergantung pada ekspor, terutama pada barang elektronik, produk teknologi informasi, farmasi, dan pada sektor jasa keuangan. Tingkat pertumbuhan PDB real rata-rata mencapai 7,1% pada tahun 2004 hingga 2007. Perekonomian mengalami penurunan sebesar 1,3% pada 2009 sebagai akibat dari krisis keuangan global, namun kembali pulih meningkat menjadi 14,7% pada 2010. Dalam jangka panjang, pemerintah merencanakan untuk menciptakan jalur pertumbuhan baru yang berfokus pada peningkatan produktivitas

di mana telah mengalami penurunan pertumbuhan hingga 1% per tahun pada dekade sebelumnya. Singapura telah menarik investasi yang cukup besar di bidang farmasi dan produksi teknologi kesehatan dan tetap akan melanjutkan upaya untuk menciptakan Singapura sebagai negara hub di Asia Tenggara dalam bidang keuangan dan teknologi tinggi (high-tech). Komposisi PDB Singapura berasal dari sektor jasa (72,8%) dan industri (27,2%). Jenis industri yang ada meliputi: elektronik, kimia, jasa keuangan, perlengkapan pengeboran minyak, pengolahan minyak (petroleum), produk dan pengolahan karet, pengolahan makanan dan minuman, perbaikan kapal, konstruksi lepas pantai, ilmu hayati (life science), dan perdagangan. Jenis komoditi ekspor Singapura meliputi mesin dan perlengkapannya (termasuk elektronik), barang konsumsi, farmasi, bahan kimia, dan bahan bakar mineral. Mitra perdagangan ekspor Singapura pada 2009 berasal dari Hong Kong (11,6%), Malaysia (11,5%), China (9,8%), Indonesia (9,7%), Amerika Serikat (6,6%), Korea Selatan (4,7%) dan Jepang (4,6%). Jenis komoditi impor Singapura meliputi mesin dan perlengkapannya, bahan bakar mineral, bahan kimia, bahan pangan, dan barang komsumsi. Negara eksportir produk komoditi ke Singapura pada 2009 berasal dari Amerika Serikat (11,9%), Malaysia (11,6%), China (10,6%), Jepang (7,6%), Indonesia (5,8%), dan Korea Selatan (5,7%). Tingkat inflasi di Singapura sendiri tercatat meningkat pada bulan Juni 2011, didorong oleh harga perumahan yang relatif masih tetap tinggi dan harga mobil. 

Bank sentral Singapura memperkirakan tekanan inflasi akan terus menguat bahkan saat pertumbuhan cenderung akan melambat. Indeks harga konsumen Singapura naik 5,2% pada Juni 2011 dibandingkan tahun sebelumnya dan ini lebih cepat dari inflasi 4,5% yang dilaporkan pada bulan Mei. Inflasi di Singapura sendiri rata-rata mencapai 5% pada periode Januari-Juni 2011. Ekonomi Singapura pada catatan terakhir mengalami “rebound” dari pertumbuhan GDP negatif menjadi positif 14,5% selama 2010, namun gejolak ekonomi global pasca pemangkasan rating surat hutang pemerintah AS baru-baru ini telah menimbulkan keraguan apakah ekspor Singapura dapat terus tumbuh. 

Ekonomi Singapura mengalami penurunan dimana Produk Domestik Bruto bertumbuh negatif 6.5% pada kuartal kedua 2011. Dimana output sektor jasa tumbuh 3.9% di kuartal ini, namun manufaktur turun 5.9%, sedangkan konstruksi naik 1.5%. 3. Korea Selatan Data PDB harga berlaku menunjukkan, ekonomi Korea Selatan didominasi oleh sektor manufaktur, sektor real estate,renting & business activities serta sektor konstruksi, listrik, gas & air adalah sektor yang paling mendominasi perekonomian Korea. 

5. Korea Selatan

Korea Selatan telah menjadi negara dengan tingkat pertumbuhan sangat tinggi dan bergabung menjadi negara dengan ekonomi berbasis industri berteknologi tinggi. Pada tahun 2004 Korea Selatan masuk dalam kelompok negara di dunia dengan PDB per kapita mencapai level triliun US Dollar dan saat ini termasuk di ranking 20 besar perekonomian dunia. 

Pemerintah Korea Selatan menerapkan impor bahan mentah dan teknologi sebagai ganti untuk bahan konsumsi dan mendorong aktivitas menabung dan investasi. Krisis Asia tahun 1997-1998 memperlihatkan kelemahan model pembangunan Korea Selatan yang menerapkan kebijakan rasio tinggi pinjaman terhadap ekuitas dan pinjaman asing jangka pendek secara masif. Nilai PDB sempat jatuh di 6,9% pada 1998 dan pulih menjadi 9% di 1999-2000. Korea Selatan menerapkan sejumlah reformasi ekonomi setelah krisis termasuk kebijakan untuk membuka investasi asing dan impor. 

Pertumbuhan ekonomi per tahun dari 2003 hingga 2007 mencapai 4-5%. Dengan pelambatan ekonomi global di akhir 2008, PDB Korea Selatan turun menjadi 0,2% pada 2009. Pada kuartal ketiga 2009, ekonomi mulai pulih dengan didorong oleh pertumbuhan ekspor, tingkat suku bunga rendah, dan kebijakan fiskal yang ekspansif sehingga mendorong pertumbuhan mencapai 6% pada 2010. Tantangan masa depan ekonomi Korea Selatan adalah pada usia penduduk yang menua, pasar kerja yang tidak fleksibel, dan ketergantungan terhadap ekspor manufaktur.

Pertumbuhan PDB Korea Selatan mencapai 6,1% pada 2010 dengan PDB per kapita mencapai 30 ribu US Dollar. Kontribusi sumbangan PDB per sektor berasal dari jasa (57,6%), industri (39,4%), dan pertanian (3%). Jenis industri yang ada di Korea Selatan meliputi elektronik, telekomunikasi, mobil, kimia, perkapalan, dan baja. Produk ekspor Korea Selatan meliputi semi konduktor, peralatan telekomunikasi nirkabel, kendaraan bermotor, komputer, baja, perkapalan, dan petrokimia. Negara mitra utama ekspor Korea Selatan adalah China (23,9%), Amerika (10,4%), Jepang (6%), Hong Kong (5,4%) pada 2009. Untuk jenis produk impor ke negara tersebut meliputi permesinan, elektronik dan peralatan elektronik, minyak, baja, peralatan transport, kimia organik, dan plastik. Negara importir utama berasal dari China (16,8%), Jepang (15,3%), Amerika (9%), Saudi Arabia (6,1%) dan Australia (4,6%).

6. Amerika Serikat

Amerika Serikat Amerika Serikat merupakan negara dengan tingkat ekonomi dan teknologi paling kuat di dunia dengan PDB per kapita mencapai 47 ribu US Dollar. Dengan sistem ekonomi berorientasi pasar, maka keputusan bisnis banyak dikendalikan oleh swasta individu dan perusahaan bisnis. Perusahaan-perusahaan di Amerika menikmati lebih besar keleluasaan dibanding negara mitra lainnya seperti Eropa Barat dan Jepang dalam memutuskan untuk melakukan ekspansi pabrik, pengurangan kelebihan pekerja, dan dalam pengembangan produk baru. 

Pada saat yang sama mereka mengalami hambatan untuk masuk ke pasar pesaing dibandingkan dengan perusahaan asing yang ingin masuk ke pasar Amerika. Keunggulan negara tersebut adalah di bidang penguasaan teknologi khususnya komputer, kesehatan, ruang angkasa, dan peralatan militer. Berikut adalah tabel produk domestik bruto harga berlaku di Amerika Serikat selama kurun waktu 2007-2009. Berdasarkan data yang ada, tiga sektor industri penyumbang ekonomi terbesar di Amerika Serikat adalah sektor real estate and rental and leasing, government, professional and business services dan manufacturing. 

Sejak perang koalisi pimpinan Amerika terhadap Irak pada 2003, Amerika mengerahkan sumber daya nasionalnya ke bidang militer. Kenaikan harga minyak pada 2005 hingga pertengahan 2008 mengakibatkan ancaman terhadap inflasi dan pengangguran. Impor terhadap minyak besarnya mencapai 60% terhadap total konsumsi Amerika. Masalah jangka panjang yang dihadapi adalah termasuk kurangnya investasi di bidang infrastruktur ekonomi, meningkatnya biaya kesehatan dan pensiun seiring populasi yang menua, defisit perdagangan dan anggaran, dan tingkat pendapatan rumah tangga yang mengalami stagnasi utamanya di level kelompok ekonomi bawah. 

Defisi perdagangan merchandise mencapai rekor 840 milyar US Dollar pada 2008 dan berkurang menjadi 506 milyar US Dollar pada 2009 dan kembali naik menjadi 630 milyar US Dollar pada 2010. Penurunan ekonomi global dan sejumlah masalah internal seperti krisis sub-prime mortgage, kegagalan investasi perbankan, penurunan harga perumahan, dan tingkat kredit yang ketat mendorong Amerika jatuh ke kondisi resesi sejak pertengahan 2008. Nilai PDB menyusut hingga kuartal ke tiga 2009 menyebabkan terjadinya kondisi krisis terdalam dan terlama sejak krisis The Great Depression. Untuk membantu menyeimbangkan pasar finansial, kongres Amerika mengeluarkan program penyelamatan senilai 700 milyar USD yang dinamakan Troubled Asset Relief Program pada Oktober 2008 yang digunakan oleh pemerintah untuk membeli ekuitas di sejumlah bank dan perusahaan industri di Amerika yang kebanyakan telah kembali lagi ke tangan pemerintah pada awal 2011. 

Pada Januari 2009 Konggres AS dan Presiden Obama menandatangani program stimulus fiskal senilai 787 milyar USD yang digunakan untuk keperluan belanja tambahan dan pemotongan pajak untuk menciptakan lapangan kerja dan membantu pemulihan ekonomi. Nilai pertumbuhan PDB Amerika diestimasikan mencapai 2,8% pada 2010 dengan perkiraan PDB per kapita mencapai 47 ribu USD. Komposisi PDB per sektor meliputi sektor jasa (76,7%), industry (22,2%), dan pertanian (1,2%). Jenis industri yang ada meliputi industri berteknologi tinggi, petroleum, baja, kendaraan bermotor, ruang angkasa, telekomunikasi, kimia, elektronik, pengolahan makanan, barang konsumsi, kayu, dan pertambangan. 

Informasi diatas kami dapat dari beberapa link, yaitu :


1. https://id.wikipedia.org/wiki/Kebijakan_fiskal

2. https://jurnalhiuns.files.wordpress.com/2016/04/jurnal.pdf 

3. http://www.bpfnews.com/index.php/id/fiscal-monetary/14607-china-akan-memberlakukan-kebijakan-fiskal-yang-lebih-tegas

4. http://www.lmfeui.com/data/Kondisi%20Ekonomi%20Asia%20dan%20AS.pdf

Selasa, 16 Mei 2017

PERTUMBUHAN EKONOMI 5 NEGARA 5 TAHUN TERAKHIR (2012-2016)




PERTUMBUHAN EKONOMI 5 NEGARA 5 TAHUN TERAKHIR (2012-2016)

China Pangkas Target Pertumbuhan Ekonomi Jadi 6,5 Persen

Pemerintah China memangkas target pertumbuhan ekonomi menjadi sekitar 6,5 persen untuk tahun 2017 ini. Hal tersebut diumumkan oleh Perdana Menteri Li Keqiang.
Sebelumnya, pada tahun 2016 lalu pemerintah China mematok target pertumbuhan ekonomi tahun 2017 pada kisaran 6,5 hingga 7 persen.
Pada tahun 2016 silam, pertumbuhan ekonomi China mengalami laju paling lambat dalam 26 tahun terakhir.
Mengutip BBC, Minggu (5/3/2017), Li menyatakan pihaknya akan menindak perusahaan-perusahaan "zombi" milik negara agar tidak memproduksi batu bara dan baja lebih banyak dari kebutuhan pasar. Namun, kenyataannya pada masa lalu upaya ini susah untuk dilakukan.
Kongres Rakyat Nasional (NPC) telah mentoleransi pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat pada tahun ini. Dengan begitu, mereka memiliki ruang lebih besar untuk mendorong reformasi dan membenahi utang.
Adapun CNN Money mewartakan, Pemerintah China telah menggunakan berbagai stimulus untuk menjaga perekonomian agar tetap tumbuh pada tahun 2016.
Investasi pemerintah pada infrastruktur melonjak dan pinjaman perbankan meningkat pesat, meski ada peringatan terkait tingginya utang korporasi.
Pemerintah China menyatakan, pemangkasan beban utang perusahaan adalah salah satu prioritas utama dalam tahun ke depan. Beberapa ekonom pun mempertanyakan relevansi target pertumbuhan pemerintah.
"Diperhalus oleh para ahli statistik pemerintah dan dipoles oleh cara kalkulasi data PDB (produk domestik bruto) berarti data resmi pemerintah tidak lagi menjadi pengukuran kinerja ekonomi China yang bisa diandalkan," kata biro riset Capital Economics. 

Faktor yang mempengaruhi Negaara Cina
Dewasa ini pertumbuhan ekonomi di Asia sangat pesat, berbeda dengan perekonomian di Uni Eropa yang terpuruk akibat krisis ekonomi di Yunani. Indonesia dan sejumlah Negara Asia lainnya menikmati dampak krisis ekonomi Eropa, para investor mengalihkan uangnya sebagian besar ke negara-negara di Asia. Oleh karena itu, wajar jika sekarang ini Indonesia masuk kedalam kategori negara dengan pertumbuhan ekonomi yang baik dan bergabung dalam keanggotaan G-20.
Tidak hanya Indonesia, negara yang tak kalah penting untuk diperhatikan pertumbuhan ekonominya adalah China. Negeri yang dijuluki tirai bambu tersebut menduduki peringkat ke-2 setelah Amerika dengan pertumbuhan ekonominya mencapai 14,9% pada Tahun 2014 lalu. Pertumbuhan ekonomi ini dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya dengan meningkatkan investasi guna menggenjot perekonomian dalam negeri, upaya ini dilakukan dengan cara menurunkan suku bunga. Hingga sekarang ini China telah menurukan suku bunga dari periode sebelumnya, misalnya suku bunga China pada awal tahun 2015 menurunkan suku bunganya dari 5.600% menjadi 5,350 %.
Dari faktor diatas, terdapat faktor lain yang secara vitalmenggerakkan ekonomi China yaitu tenaga kerja (buruh). China terkenal dengan buruhnya yang murah, dibandingkan dengan negara Asia lainnya. Hal ini dikarenakan pertumbuhan penduduk di China yang sangat banyak dan cepat sehingga ketika penduduk tersebut memasuki usia produktif, mereka kekurangan lapangan pekerjaan. Permasalahan ini kemudian mendorong pemerintah China untuk mengundang banyak investor agar membuka produksinya di China. Para investor yang umumnya berasal dari Eropa, Amerika dan Asia (Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang) tergiur akan tawaran ini. Bagaimana tidak tergiur, tenaga kerja yang banyak sangat berpengaruh pada upah yang ditawarkan, sehingga keuntungan dari hasil produksi bisa lebih banyak daripada belanja (pengeluaran) untuk buruh yaitu upah.
Para buruh yang di gaji sangat murah tersebut telah menggerakkan ekonomi China ke arah yang lebih baik, tapi perlu disadari bahwa banyak sekali pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pemerintah China dalam masalah perburuhan. Kurangnya pengawasan dalam perekrutan ketenagakerjaan terkadang bisa menjadi sorotan internasional yang bisa mempengaruhi ekspor China diluar negeri. Seperti kasus pekerja dibawah umur yang terjadi di perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia yaitu Samsung. Kasus tersebut menjadi perhatian khusus Organisasi Buruh Internasional (International Labor Organization) dan meminta pemerintah China menyelidiki kasus tersebut. Citra China semakin tercoreng dengan peristiwa itu, setelah sebelumnya China mendapat kecaman atas upah murah di China dibandingkan dengan Negara Asia lainnya. Parah buruh itu telah berhasil meningkatkan perekonomian China hingga sekarang ini, bayangkan tanpa para buruh murah tersebut perekonomian China tidak sebesar sekarang.
Gajih murah bagi buruh di China mungkin sekarang sudah mulai mengalami kenaikan, dimana upah buruh di China setiap tahunnya mulai mengalami kenaikan sekitar 20%. Di provinsi Shenzhen misalnya yang merupakan daerah khusus industri China menaikkan upah sebesar 1500 Yuan atau dua juta rupiah per bulan pada tahun 2012 lalu. Kenaikan upah buruh tersebut dilatar belakangi oleh kebijakan pemerintah China dalam hal pengurangan jumlah penduduk melalui program Keluarga Berencana (KB). Sehingga kemudian akibat kebijakan program KB, China mengalami defisit tenaga kerja. Hal itu menghambat pada faktor produksi dan penyerapan tenaga kerja. Dampak dari kenaikan upah buruh itu mempengaruhi investasi asing. Para investor mengalihkan uang mereka ke negara-negara dengan upah buruh murah seperti Myanmar, Vietnam, Thailand dan Bangladesh.

TIMOR LESTE

Tingkat kesejahteraan rata-rata penduduk Timor-Leste berdasarkan gross domestic product (GDP) per kapita yang telah disesuaikan dengan purchasing power parity (PPP) dalam international US$ adalah sebesar US$1.709, sepertiga dari Indonesia yang besarnya US$4,956.[1] Namun, jika menggunakan indikator Gross National Income (GNI) per kapita berdasarkan PPP, Timor-Leste sejak tahun 2007 telah menyusul Indonesia. Data terakhir yang tersedia tahun 2012, GNI per kapita Timor-Leste sebesar US$6.230 sedangkan Indonesia sebesar US$4,730.[2] Ketika masih menjadi bagian dari Indonesia, Timor Timur tergolong provinsi dengan persentase penduduk miskin terbesar bersama Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Setelah berpisah dengan Indonesia, Timor Timur bisa melaju lebih kencang, sedangkan tetangga terdekatnya, Nusa Tenggara Timur, masih saja dengan status provinsi yang persentase penduduk miskinnya tertinggi setelah Papua dan Papua Barat. Sebagai negara yang relatif baru membangun dengan penduduk hanya 1,2 juta jiwa, Timor-Leste masih banyak menghadapi keterbatasan. Namun, negeri ini bisa belajar banyak dari keberhasilan dan kegagalan Negara lain, termasuk Indonesia, sehingga terbuka peluang untuk maju lebih cepat. Majalah Economist edisi terbaru mencantumkan Timor-Leste sebagai salah satu dari 10 negara yang diproyeksikan bakal mengalami pertumbuhan ekonomi paling cemerlang tahun 2014.[3] Anggapan bahwa Timor-Leste bisa tumbuh tinggi karena relatif baru merdeka dan berawal dari tingkat yang rendah tidak cukup kuat. Di jajaran 10 besar ada Mongolia, Tanzania, Irak, Laos, dan Macau. Jika alasannya karena perekonomian Timor-Leste relatif sangat kecil, buktinya banyak perekonomian yang ukurannya kecil mengalami perkembangan tersendat-sendat. Bermuda dan Puerto Rico, misalnya, masuk dalam kelompok 10 besar yang pertumbuhannya tahun 2014 diproyeksikan paling buruk. Sebaliknya, negara sangat besar bisa juga tumbuh tinggi seperti China.

Pertumbuhan ekonomi Timor-Leste pada mulanya berfluktuasi tajam karena ketergantungan perekonomiannya terhadap minyak dan kopi. Laju inflasi cukup tinggi, hampir selalu dua digit. Penyebab utamanya adalah persoalan supply bottlenecks. Walau demikian, sejak 2007 pertumbuhan ekonomi tidak lagi berfluktuasi tajam, bahkan hampir selalu di atas 10 persen dan diperkirakan berlanjut hingga tahun 2015.

Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah pemilihan umum yang lalu, sejumlah inisiatif telah digulirkan untuk memperkokoh landasan bagi pertumbuhan berkelanjutan, seperti pelayanan satu atap dalam  perizinan usaha, penyiapan undang-undang pertanahan, menghapuskan monopoli di jasa telekomunikasi dengan kehadiran dua pelaku baru, pembenahan bandara, dan konsultasi publik tentang undang-undang pertambangan. Jika Timor-Leste diuntungkan oleh keputusan arbitrase atas the maritime treaty yang mengatur the greater sunrise gas and condensate field, masa depan penerimaan negara dari sektor migas bakal lebih pasti. Jika di Indonesia kekayaan minyak sudah menjelma menjadi semacam “kutukan”, bagi Timor-Leste sangat berpotensi sebagai “berkah”. The Petroleum Fund, yang merupakan sovereign wealth funds negara, sudah mencapai 14 miliar dollar AS pada Juli 2013, naik dari 11,8 miliar dollar AS pada akhir 2012. The Petroleum Fund relatif cepat mengakumulasi karena hanya sebagian kecil penerimaan Negara dari minyak yang dialirkan ke anggaran Negara bagi kebutuhan generasi sekarang. Sebagian besar sisanya dikelola untuk kepentingan generasi yang akan datang demi menegakkan keadilan antargenerasi. Dalam kasus Indonesia, seluruh penerimaan minyak (bagi hasil minyak dan pajak keuntungan perusahaan minyak) yang pada tahun 2012 sebesar Rp 177 triliun habis dibelanjakan, bahkan masih kurang untuk menutup subsidi BBM sebesar Rp 240 triliun. Hal lain yang patut dikagumi dari Timor-Leste adalah kesungguhan pemerintah melindungi rakyatnya dari goncangan eksternal dan internal. Social protection index versi Asian Development Bank Timor-Leste menunjukkan Timor–Leste berada di urutan ke-11, jauh di atas Indonesia yang tercecer di urutan ke-27 dari 35 negara di Asia. Pemerintah Timor-Leste tak menunggu kaya untuk melindungi rakyatnya dari goncangan gelombang globalisasi yang juga merasuki negeri tetangga terdekat kita.

Kita sepatutnya cepat sadar akan kesalahan di masa lalu, mau mengubah pola pikir yang mengedepankan kepentingan rakyat banyak dan menegakkan keadilan. Informasi tambahan Timor-Leste (Indonesia): Penduduk 1,2 juta jiwa (246,9 juta jiwa) Pertumbuhan penduduk 2,9% (1,2%) Luas daratan 14.870 km2 (1.904.570 km2) GDP (PPP, international $) USD2,1 miliar (USD1,2 triliun) GDP per capita (PPP, international $) USD1.709 (USD4.956)
http://www.kompasiana.com/faisalbasri/timor-leste-sudah-menyusul-indonesia_552bd15d6ea834c02a8b4581

Faktor yang mempengaruhi timor leste :
Latar Belakang: Timor-Leste merupakan negara baru, akan tetapi berdasarkan data BPS 2000-2013 pendapatan perkapita negara Timor-Leste menduduki posisi di atas pendapatan perkapita dari beberapa negara ASEAN lainnya. Sebagai negara baru hal ini merupakan prestasi yang baik dengan didukung oleh faktor-faktor Ekspor, Investasi Asing, Inflasi dan Tenaga Kerja yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Timor-Leste. Berdasarkan data dari BPS Timor-Leste Pedapatan perkapita TimorLeste pada 2000-2007 sebesar US$ 0,390-0,553 juta/ kapita kemuidan pada 2008- 2013 pendapatan perkapita sebesar US$ 0,671 -1,339 juta/ kapita. Tujuan:Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Ekspor, Investasi Asing, Inflasi dan Tenaga Kerja terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Gross Domestic Product) TimorLeste 2000-2013. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kuantitatif dengan mengambil data sekunder runtut waktu (Time Series) yang menganalisis tentang pengaruh variabel-variabel seperti inflasi, investasi, jumlah tenaga kerja, ekspor terhadap nilai GDP (Gross Domestik Product) di Timor-Leste tahun 2000-2013. Analisis data menggunakan uji regresi linier berganda dengan tingkat ketelitian 95%. Model Hipotesis: LnY =1.170+0,100LnX1+0.121LnX2-0,020LnX3+0,368LnX4+e. Uji Statistik; Uji t (Uji secara Individu), Uji F (Uji secara Bersama-sama), Koefisien Determinasi (R2), Koefisien Korelasi (r), Koefisien Elastisitas (B). Uji Asumsi Klasik; Uji Multikolinearitas, Heteroskedastisitas, Uji Autokolerasi Hasil Penelitian: (1) Ekspor, Investasi Asing, Inflasi dan Tenaga Kerja secara bersama-sama atau secara simultan berpengaruh terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Gross Domestic Product) Timor-Leste 2000-2013 pada α = 5% sebesar 98,9% sedangkan sisanya 1,1% dipengaruhi oleh faktor lain. (2) Variabel yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai GDP adalah ekspor, investasi Asing, dan tenaga kerja pada α = 5%. (3) Variabel yang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai GDP adalah nilai inflasi pada α = 10%. Disarankan Pemerinhan negara Timor-Leste untuk meningkatkan ekspor dan menurunkan impor, inflas, maka pemerintah dan masyarakat harus menaruh perhatian penuh pada potensi-potensi SDA untuk kemajuan ekspor dan barang-barang komoditi ekspor. Untuk meningkatkan pengaruh investasi, menciptakan lapangan kerja, memberikan pelatihan kepada angkatan kerja baik formal maupun non formal, pendidikan alternatif, promosi produk-produk dalam negeri ke pasar internasional, pariwisata, dll. Factor penghambat pengembangan investasi dan masalah infrastruktur harus mendapat perhatian penuh dari masyarakat dan pemerintah. Kata Kunci: Pertumbuhan Ekonomi Timor-Leste, Jumlah Penduduk dan Nilai GDP

Tiga Penyebab Utama Kegagalan Ekonomi Yunani


Seorang pria tunawisma tidur berselimutkan kardus di pelataran sebuah toko yang tutup di pusat kota Athena, Yunani.(ANDREAS SOLARO / AFP)

Meski telah mendapatkan bantuan 240 miiar euro atau lebih dari Rp 3.500 triliun sejak 2010, ekonomi Yunani tetap terpuruk dan hingga kini Negeri Para Dewa itu masih terlilit utang.
Padahal negara-negara zona euro lainnya yang sempat mengalami krisis finansial sudah mulai membaik dan pertumbuhan ekonominya mulai bergerak positif.
Kini Yunani harus menggelar referendum untuk meminta pendapat rakyat apakah akan negeri itu harus menjalankan semua persyaratan yang diminta, termasuk penghematan untuk mendapatkan bantuan keuangan dari IMF atau menolak berbagai persyaratan reformasi ekonomi meski berisiko bangkrut karena gagal membayar utang yang jatuh tempo pada Selasa mendatang.
Sebenarnya apa penyebab utama krisis finansial di Yunani?
Krisis finansial global
Setelah bergabung dengan zona mata uang euro pada 1 Januari 2001, Yunani yang memiliki banyak utang langsung menjadi korban pertama krisis finansial global yang muncul pada 2007-2008.
Imbas krisis finansial global ini tak hanya dirasakan Yunani namun juga membebani 19 negara zona euro karena harus ikut membantu membenahi perekonomian negeri itu.
Risiko krisis ekonomi semakin besar ketika partai radikal sayap kiri Syriza yang menolak berbagai syarat pengucuran dana talangan memenangkan pemilu.
Perlahan-lahan krisis finansial Yunan memburuk. Utang negara mencapai 107 persen dari penghasilan nasional pada 2007 menjadi 177 persen pada tahun lalu. Angka ini jauh di atas batas yang ditetapkan Uni Eropa yaitu 60 persen.
Berdasarkan data badan pengelolaan utang Yunani, pada Maret tahun ini beban utang negara itu mencapai 312,7 miiar euro atau sekitar Rp 4.600 triliun alias 174,7 persen di atas GDP.
Dalam hal moneter, dengan posisi utang Yunani tahun lalu sebesar 317 miliar euro maka IMF, salah satu kreditor terbesar negeri itu, tak bisa melanjutkan lagi untuk memberikan pinjaman.
Reformasi ekonomi yang gagal
Selama ini, Yunani diselamatkan dua paket bantuan besar. Pertama adalah bantuan 110 miliar euro dari Uni Eropa, IMF dan Bank Sentral Eropa (ECB), dengan syarat Yunani harus melakukan reformasi ekonomi drastis.
Saat situasi ekonomi memburuk, Yunani mendapatkan bantuan dana talangan kedua pada 2012. Bantuan ini termasuk pinjaman sebesar 130 miliar euro dan penghapusan utang sebesar 107 miliar euro oleh para kreditor swasta.
Namun, pencairan bantuan tahap terakhir sebesar 7,2 miiar euri tertunda karena pemerintah Yunani sedang bernegosiasi dengan para kreditor terkait program  reformasi ekonomi terbaru.
Langkah penghematan yang dilakukan pemerintah langsung memberikan efek merusak kepada perekonomian. Dari 2010 hingga 2013, pendapatan rata-rata rakyat Yunani menurun hingga lebih dari 3.000 euro dan angka pengangguran meningkat tiga kali lipat antara 2008-2013.
Tahun lalu sempat muncul perbaikan, setelah lima tahun yang menyakitkan perekonomian Yunani akhirnya tumbuh, defisit keuangan berkurang dari 13,5 persen dari GDP menjadi hanya 1,6 persen.
Namun, kas negara tetap kosong di saat pemerintah berjuang keras mengumpulkan pajak, terutama dari gereja dan usaha pengiriman barang, sementara sebagian besar dana segar negeri itu ditumpuk di luar negeri.
Politik dinasti
Di panggung politik, selama lima dekade terakhir perpolitikan negeri itu hanya dikuasi tiga dinasti keluarga.
Golongan kiri-tengah dipimpin klan Papandreou dengan George Papandreou yang berkuasa sebelum seorang kolonel AD menggantikannya pada 1967-1974.
Putra George, Andreas kemudian menduduki tampuk kekuasaan, menciptakan partai politik Pasok dan menjadi kepala negara berhaluan sosialis pertama di Yunani pada 1981.
Kekuasaan klan ini masih berlanjut dengan sang cucu George yang menjabat perdana menteri pada Oktober 2009 hingga November 2011.
Di sisi kanan, terdapat dinasti Karamanlis dan Mitsotakis. Constantine Karamanlis memimpin pemerintahan setelah sang kolonel AD terdepak pada 1974. Constantine menjadi presiden Yunani periode 1980-1985 dan 1990-1995.
Sepupunya, Costas Karamanlis juga pernah berkuasa pada 2004-2009. Lalu ada Constantine Mitsotakis yang menjadi perdana menteri pada 1990-1993 yang adalah Eleftherios Venizelos, perdana menteri Yunani pada era Perang Dunia I dan merupakan tokoh yang membawa Yunani memasuki dunia modern.
Dua anak Constantine, Dora Bakoyannis dan Kyriakos Mitsotakis, pernah menduduki jabatan menteri dalam pemerintahan.
Pada 25 Januari 2015, partai Syriza memenangkan pemilu dengan meraih 149 kursi dari 300 kursi parlemen. Pemimpin partai ini Alexis Tsipras membentuk pemerintahan koalisi dengan kelompok sayap kanan populer Partai Kemerdekaan Yunani.
Kekuatan ketiga dalam perpolitikan Yunani adalah partai neo-Nazi Golden Dawn yang meraup 17 kursi di parlemen.

Faktor yang mempengaruhi negara yunani:
Krisis utang yang melanda zona Eropa menjadi babak baru  ekonomi negara-negara Eropa menuju resesi. Krisis ini  pada perkembangannya melanda hampir seluruh negara-negara Eropa pengguna mata uang Euro. Krisis yang berawal dari kredit macet di Yunani yang kemudian berdampak luas bagi negara-negara Eropa lain. Negara-negara penyokong ekonomi Eropa seperti Jerman, Perancis dan Italia juga terkena imbas dari krisis tersebut. Euro kemudian tertekan dan mengakibatkan penurunan angka pertumbuhan ekonomi negara-negara di zona Euro.
Sebelum krisis ekonomi ini terjadi, perjalanan sejarah Uni Eropa sebenarnya nyaris penuh dengan keberhasilan. Tahun 1995 hampir seluruh negara Eropa Barat bergabung. Tahun 1998 sistem keuangan Eropa terintegrasi dalam mata uang tunggal:  Euro. Tahun 2004 bertambah lagi 10 negara  anggota  baru. Mereka adalah negara-negara ex-komunis Eropa Timur. Ini menjadikan Uni Eropa sebagai kekuatan ekonomi besar di dunia sekaligus menjadi contoh organisasi regional terbaik  di  dunia. Wajar saja kalau keberadaannya dikagumi oleh organisasi regional manapun di dunia. Bahkan pada tahun 2012 Uni Eropa mendapatkan hadiah nobel untuk perannya menyatukan benua biru tersebut (Reuters 2012).
Namun, optimisme terhadap Uni Eropa berbalik dan membuat harapan itu goyah dengan adanya krisis ekonomi yang mulai melanda Uni Eropa pada tahun 2008. Dampaknya masih dirasakan hingga saat ini. Krisis ekonomi tersebut telah membuat Uni Eropa mulai memasuki fase-fase sulit. Badai krisis yang dialami negara-negara Eropa memiliki ‘efek domino’ terhadap negara-negara Eropa lain. Jika dilihat kembali dari tahapan-tahapan integrasi menurut Ballasa (1963) Uni Eropa telah melewati berbagai tahapan hingga terciptanya EMU dan mata uang tunggal. Hal ini menandakan bahwa Eropa berada pada proses integrasi ekonomi yang terus meningkat, bahkan dengan dikeluarkannya perjanjian Stability Growth Pact  (SGP)1 pada 2003 dan ditanda-tanganinya  Fiscal Compact pada awal 2012, tahapan integrasi ekonomi ini sudah sepenuhnya terjadi .
Krisis di Eropa merupakan dinamika rumit antara politik dan ekonomi. Seperti yang telah kita ketahui bahwa kawasan Eropa secara global sedang mengalami krisis moneter yang disebabkan hutang Negara Yunani kemudian merebak ke Irlandia dan Portugal serta akhirnya imbasnya menimbulkan efek domino seperti yang dijelaskan diatas. Istilah efek domino diambil dari analogi sebuah permainan domino, dimana ketika satu domino jatuh kearah barisan domino selanjutnya semuanya akan jatuh terus-menerus sampai akhirnya tak satupun domino berdiri. Definisi dari analogi tersebut adalah penyebaran suatu perubahan yang dapat menjalar terus-menerus dalam reaksi berantai sampai masalah tersebut dapat dihentikan. Efek domino tersebut adalah keadaan yang terjadi pada krisis Yunani masa kini. Keparahan efek domino tersebut dapat dilihat dari Negara-negara maju yang telah dipengaruhi oleh krisis ekonomi Yunani dan potensi untuk krisis ekonomi menjalar ke hampir seluruh kawasan Uni Eropa.
Krisis Eropa yang diawali dengan kejatuhan perekonomian Negara anggota Uni Eropa yang dipicu oleh melonjaknya beban utang dan defisit Negara anggota Uni Eropa terutama Yunani. Pengeluran pemerintah yang begitu banyak serta keserakahan beberapa Negara di Eropa seperti Yunani, Portugal, Irlandia, dan Spanyol menyebabkan pemerintah kesulitan dalam membayar hutang khususnya kepada bank dan lembaga keuangan lain dan tentunya hal ini akan menjalar ke pihak lain. Kesaling-terkaitan  antara berbagai bank dan lembaga keuangan akan berdampak pada meluasnya dampak krisis keuangan ini ke banyak Negara Eropa termasuk Jerman dan Perancis. Di luar Eropa, Negara yang keuangan pemerintahnya tidak baik akan mudah terkena dampak ini, termasuk Jepang. Terutama Negara-negara yang menggantungkan pada kegiatan ekspor impor akan terkena dampak krisis ekonomi global ini.
China dan India yang sering diharapkan sebagai “Negara Penyelamat” krisis ekonomi global, karena pertumbuhan ekonomi mereka yang amat tinggi dalam sepuluh tahun terakhir pun akan terkena dalam krisis ekonomi Eropa. Pertumbuhan ekonomi China telah menurun, walau relative masih amat tinggi. Penurunan pertumbuhan ekonomi China akan berdampak pada banyak Negara di Asia termasuk Asia Tenggara.


Bisnis.com, JAKARTA – Kendati China disebut-sebut sebagai negara dengan tingkat pertumbuhan paling tinggi dunia dalam setidaknya satu dekade terakhir, World Economic Forum (WEF) mencatat sejumlah negara pun tumbuh serupa bahkan lebih tinggi dari Negeri Tembok Raksasa.
Dalam laporannya yang bertajuk Global Economic Prospect, WEF merilis setidaknya 13 negara termasuk ke dalam negara dengan pertumbuhan paling tinggi dunia dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 7% dalam lima tahun terakhir.
Kendati tumbuh tinggi, WEF mengungkapkan ketigabelas negara tersebut pun masih belum lepas dari persoalan ketimpangan, nilai PDB rendah, korupsi merajalela, dan ketidakstabilan situasi politik. Berikut ketigabelas negara dengan pertumbuhan paling tinggi di dunia :
1. Ethiopia dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 9,7%
Ekonomi Ethiopia ditopang oleh sektor pertanian dan kini pemerintah tengah menggenjot kinerja sektor-sektor lain seperti manufaktur, tekstil, dan energi. Meski angka pertumbuhan ekonominya tinggi, nilai PDB Ethiopia termasuk salah satu yang paling rendah di dunia.
2. Turkmenistan dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 9,07%
Perekonomian Turkmenistan hingga saat ini dibangun di tengah mental korupsi yang sulit diberantas. Dua sektor utama yang menopang pertumbuhan yaitu perkebunan dengan komoditas utama kapas dan gas alam. Seperti diketahui, saah satu bekas Soviet ini merupakan pemasok gas terbesar keempat di dunia. Turkmenistan mengekspor gasnya ke China, dan sejumlah negara Eropa.
Selain korupsi, Turkmenistan pun masih harus menyudahi beberapa persoalan pelik negaranya yaitu sistem pendidikan yang buruk, pengelolaan pendapatan dari minyak dan gas, dan keharusan melakukan reformasi pasar.
3. Kongo dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 8,62%
Republik Demokratik Kongo merupakan negar ayang juga menggantungkan sumber pertumbuhannya pada sumber daya alam. Sayangnya, hingga saat ini pemanfaatan sumber daya alam belum maksimal karena sistem pemerintahan yang penuh konflik dan situasi politik yang tidak stabil.
4. Myanmar dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 8,3%
Myanmar merupakan salah satu negara paling miskin di Asia Tenggara. Kendati tumbuh tinggi, perekonomiannya sebenarnya terbilang mengalami perlambatan sejak 2011 karena amat dipengaruhi pertumbuhan ekonomi global.
Saat ini, Myanmar memiliki jumlah besar masyarakat usia pekerja, sumber daya alam, dan tengah berupaya menarik investasi asing.
5. Uzbekistan dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,87%
Uzbekistan juga merupakan salah satu negara pecahan Uni Soviet dan saat ini tengah berupaya bergerak menuju perekonomian yang berbasis pasar. Uzbekistan merupakan negara pengekspor kapas terbesar kelima di dunia dan juga merupakan negara yang kaya akan gas dan emas.
Saat ini, Uzbekistan tengah berupaya menekan tingginya tingkat pekerja anak di perkebunan kapas.
6. Pantai Gading dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,8%
Sekitar 65% populasi Pantai Gading bekerja di sektor pertanian. Negara ini merupakan produser dan eksportir terbesar biji coklat di dunia, dan merupakan pemain besar pada industri kopi dan minyak kelapa sawit.
7. Papua Nugini dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,6%
Sekitar 85% dari populasi Papua Nugini bekerja di sektor pertanian. Beberapa hasil alam negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia ini diekspor dalam jumlah besar yaitu emas, tembaga, dan minyak.
Saat ini pemerintah Papua Nugini tengah berupaya menyelesaikan beberapa persoalan menahun seperti dalam bidang investasi, privatisasi beberapa institusi, dan mengembalikan kejayaan lembaga negara.
8. India dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,57%
Bukan rahasia lagi, India yang karakternya tidak jauh berbeda dengan Indonesia ini memang sedang mengalami transisi perekonomian. Kinerja Perdana Menteri Narendra Modi yang baru menjabat setahun dipuji-puji berbagai kalangan termasuk analis dan kritikus Negeri Bollywood.
Pertumbuhan ekonomi India ditopang oleh sektor jasa, berkontribusi 65% terhadap total PDB nasional. Saat ini, PM Modi tengah berupaya menyelesaikan persoalan korupsi, kemiskinan, dan diskrimiasi terhadap perempuan.
9. Bhutan dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,55%
Pertumbuhan ekonomi Bhutan amat bergantung pada sektor pertanian dan kehutanan. Bhutan juga merupakan pengekspor hydropower ke India. Saat ini pemerintah Bhutan sedang menggenjot pembangunan infrastruktur.
10. Mozambik dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,3%
Mozambik tercatat sebagai salah satu negara yang dalam beberapa tahun terakhir berhasil menarik investasi asing dalam jumlah besar untuk merealisasikan proyek-proyek untuk memaksimalkan potensi sumber day alam.
Beberapa analis meyakini Mozambik pun akan mampu mengeruk pendapatan dari gas dan batu bara jika dimaksimalkan pengelolaannya. Sebagai informasi, lebih dari setengah populasi Mozambik hidup di bawah garis kemiskinan.
11. Tanzania dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,15%
Pertumbuhan ekonomi Tanzania terus melejit karena produksi emas yang melimpah dan didukung oleh sektor pariwisata yang dikelola dengan baik. Tanzania juga menggenjot pendapatan dari sektor lain seperti telekomunikasi, perbankan, energi, dan pertanian.
12. Rwanda dengan rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,12%
Sekitar 90% populasi Rwanda bekerja di sektor pertanian dan mineral. Sektor lain yang juga menopang perekonomian Rwanda yaitu pariwisata dan perkebunan dengan hasil utama teh dan kopi.
13. China rata-rata pertumbuhan PDB dalam 3 tahun terakhir 7,10%
Perekonomian China tumbuh masif sejak pemerintah negara itu menggenjot sektor manufaktur yang melambungkan nilai ekspor. Tak sedikit analis menyebut dalam sedikitnya satu dekade lagi, perekonomian China akan melampaui Amerika Serikat.
Kendati demikian, pendapatan perkapita negara ini masih di bawah rata-rata dunia.
NASDAQ MarketSite di Times Square.

Ekonomi New York City adalah ekonomi reegional terbesar di Amerika Serikat dan terbesar kedua di dunia setelah Tokyo.[1] Dibantu Wall Street di Lower Manhattan, New York City merupakan ibu kota keuangan dunia bersama kota London[2][3][4][5][6][7][8] dan merupakan tempat berdirinya New York Stock Exchange, bursa saham terbesar di dunia menurut kapitalisasi pasar perusahaan terdaftar. New York dikenal karena konsentrasi firma sektor jasa yang tinggi dalam bidang hukum, akuntansi, perbankan dan konsultan manajemen.[9]
Industri keuangan, asuransi, kesehatan, dan lahan yasan membentuk dasar ekonomi New York. Kota ini juga merupakan pusat media massa, jurnalisme dan penerbitan yang penting di Amerika Serikat, dan merupakan pusat seni utama di negara ini. Industri kreatif seperti media baru, periklanan, mode, desain dan arsitektur mengalami pertumbuhan cepat dengan keuntungan kompetitif kuat yang dipegang New York City dalam industri-industri ini.[10] Industri manufaktur masih memainkan peran penting meski semakin menurun jumlahnya.
New York Stock Exchange sampai saat ini merupakan bursa saham terbesar di dunia menurut kapitalisasi pasar perusahaan terdaftar. Bursa elektronik NASDAQ memiliki jumlah perusahaan terdaftar terbanyak dan merupakan yang terbesar ketiga di dunia menurut kapitalisasi pasar perusahaan terdaftar.
Wilayah metropolitan New York memiliki produk metropolitan bruto senilai $1,13 trilyun pada tahun 2005,[11][12] ekonomi regional terbesar di Amerika Serikat.[13] Ekonomi kota ini menyumbang sebagian besar aktivitas ekonomi di negara bagian New York dan New Jersey.[13]

Daftar isi

·         2Lihat pula
·         3Catatan kaki
·         4Pranala luar

Perusahaan Fortune 500 di New York City

Peringkat
NYC
Peringkat
AS
Peringkat
dunia
Perusahaan
Laba
(juta)
Karyawan
(dunia)
Kelompok industri
1
13
36
$115,475
239,831
Commercial Banks
2
14
39
$111,055
260,000
Commercial Banks
3
16
41
$106,565
194,400
Telecommunications
4
17
44
$104,417
63,000
Property and Casualty Insurance (stock)
5
31
103
$67,809
110,600
Pharmaceuticals
6
46
174
$52,717
54,000
Life and Health Insurance (stock)
7
51
176
$46,940
729
Diversified Financials
8
54
181
$45,967
38,700
Commercial Banks [formerly Securities]
9
63
218
$39,320
62,542
Commercial Banks [formerly Securities]
10
71
258
$34,947
16,068
Life and Health Insurance (mutual)
11
74
263
$34,613
13,776
Petroleum Refining
12
83
284
$32,778
51,000
Entertainment
13
87
296
$32,225
7,312
Life and Health Insurance (mutual)
14
91
319
$30,242
61,000
Commercial Banks
15
94
331
$27,208
78,300
Tobacco
16
95
274
$26,888
31,000
Entertainment
17
106
389
$25,112
32,000
Property and Casualty Insurance (stock)
18
127
465
$21,013
59,000
Metals
19
131
$19,484
27,000
Pharmaceuticals
20
137
$18,868
47,030
Telecommunications
21
159
$15,680
63,000
Aerospace and Defense
22
160
$15,680
39,200
Household and Personal Products
23
165
$14,929
48,000
Commercial Banks
24
168
$14,621
18,400
Property and Casualty Insurance (stock)
25
174
$14,060
25,380
Entertainment
26
180
$13,497
10,900
Entertainment
27
184
$13,325
15,180
Utilities: Gas and Electric
28
195
$12,543
65,500
Advertising, Marketing
29
225
$10,931
51,000
Diversified Financials
30
226
$10,863
42,000
Household and Personal Products
31
245
$10,051
4,812
Life and Health Insurance (mutual)
32
256
$9,668
698
Securities
33
270
$9,119
56,647
Motor Vehicles and Parts
34
282
$8,612
9,127
Securities
35
285
$8,528
13,938
Property and Casualty Insurance (stock)
36
307
$7,796
31,200
Household and Personal Products
37
355
$6,532
41,000
Advertising, Marketing
38
364
$6,363
3,778
Commercial Banks
39
372
$6,168
21,000
Publishing, Printing
40
374
$6,138
12,350
Telecommunications
41
395
$5,811
35,000
Specialty Retailers (books)
42
446
$5,049
25,348
Specialty Retailers: apparel
43
451
$4,979
19,000
Apparel
44
479
$4,637
16,600
Apparel
45
495
$4,425
2,968
Securities
Catatan: IAM: sebelumnya International Assets Management; NYSE: mengoperasikan New York Stock Exchange & bursa lain
Sumber: Situs web Fortune 500, Fortune Global 500 dan Fortune, Volume 163, Number 7 (23 Mei 2011)
Peringkat menurut laba pada tahun fiskal yang berakhir sebelum 1 Februari 2011. Peringkat dunia menurut laba Fortune Global 500 untuk tahun fiskal yang berakhir sebelum 1 April 2011.